Simeulue— Komite Peralihan Aceh (KPA) Simeulue menyampaikan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya seorang pemuda asal Simeulue yang menjadi korban penganiayaan hingga tewas di Masjid Agung Sibolga, Sumatera Utara. Minggu, (02/11/2025).
Peristiwa tragis tersebut telah mengguncang hati masyarakat Simeulue dan menimbulkan keresahan yang luas.
Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Simeulue, Hermansyah (Man Cobra), dalam keterangannya mengecam keras tindakan biadab tersebut dan meminta aparat penegak hukum bertindak cepat serta transparan dalam menangani kasus ini.
“Kami mendesak aparat penegak hukum, baik Polres Sibolga maupun Polda Sumatera Utara, untuk segera mengusut tuntas kasus ini. Jangan ada pembiaran. Siapa pun pelakunya harus ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Man Cobra.
Menurutnya, kejadian ini bukan hanya persoalan kriminal biasa, tetapi menyangkut nilai-nilai kemanusiaan dan keamanan warga perantauan, terutama bagi masyarakat Aceh dan Simeulue yang mencari nafkah di luar daerah.
“Tempat ibadah seharusnya menjadi ruang aman bagi siapa pun. Kekerasan di lingkungan rumah Allah adalah tindakan yang tidak bisa ditolerir. Kami meminta Kapolri untuk ikut memantau langsung penanganan kasus ini,” tambahnya.
KPA Simeulue juga mendorong Komnas HAM dan LPSK untuk turun tangan memberikan pendampingan hukum bagi keluarga korban, agar proses penyelidikan berjalan terbuka dan adil.
Man Cobra menegaskan bahwa pihaknya bersama masyarakat Simeulue akan terus memantau perkembangan kasus tersebut dan tidak akan tinggal diam sampai keadilan benar-benar ditegakkan.
“Keadilan bagi almarhum adalah harga mati. Jangan ada lagi nyawa anak Simeulue yang melayang tanpa kepastian hukum,” tutupnya











