Banda Aceh – Penemuan cadangan gas raksasa di Blok Andaman dinilai menjadi momentum penting bagi kebangkitan ekonomi Aceh. Namun, pemerintah pusat dan seluruh pemangku kepentingan diingatkan agar tidak mengulangi pengalaman masa lalu yang membuat masyarakat Aceh hanya menjadi penonton di tengah melimpahnya sumber daya alam yang dimiliki daerah tersebut.
Direktur Emirates Development Research (EDR), Dr. Usman Lamreung, mengatakan proyek pembangunan pipa transmisi gas Dumai–Sei Mangkei yang akan menghubungkan pasokan gas dari Aceh ke berbagai wilayah di Sumatera hingga Jawa merupakan bagian dari strategi energi nasional. Namun demikian, menurutnya, manfaat terbesar dari penemuan cadangan gas tersebut harus terlebih dahulu dirasakan oleh masyarakat Aceh.
“Penemuan gas Andaman seharusnya menjadi kabar besar yang membawa harapan baru bagi rakyat Aceh. Jangan sampai kita kembali mengulangi sejarah, di mana sumber daya alam diambil dari Aceh tetapi manfaat ekonominya lebih banyak dinikmati daerah lain,” ujar Usman, Kamis (4/6/2026).
Ia menilai, pemerintah perlu memastikan keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam seluruh rantai industri migas, mulai dari tenaga kerja, pengembangan usaha pendukung, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Dengan demikian, keberadaan proyek strategis nasional tersebut dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Usman, pengalaman pengelolaan migas di masa lalu harus menjadi pelajaran penting. Aceh pernah menjadi salah satu daerah penghasil gas terbesar melalui ladang Arun, namun manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat dinilai belum sebanding dengan besarnya kekayaan alam yang dieksploitasi.
Karena itu, ia mendorong Pemerintah Aceh, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, dan pelaku usaha lokal untuk segera menyusun strategi bersama dalam menyambut era produksi gas Andaman yang diperkirakan dimulai sekitar tahun 2028.
“Jangan sampai ketika produksi dimulai nanti, masyarakat Aceh hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri. Harus ada keberpihakan nyata kepada daerah dan masyarakat lokal, baik dalam aspek investasi, lapangan kerja, maupun pengembangan industri turunannya,” tegasnya.
Usman juga menekankan pentingnya pembangunan industri hilirisasi di Aceh agar nilai tambah ekonomi tidak seluruhnya keluar dari daerah. Menurutnya, keberadaan cadangan gas besar di Blok Andaman harus menjadi peluang untuk membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja dan memperkuat pendapatan daerah.
Ia berharap pemerintah pusat dapat menjadikan Aceh sebagai bagian utama dari agenda pengembangan industri energi nasional, bukan sekadar daerah penghasil bahan baku. Dengan demikian, penemuan gas Andaman benar-benar menjadi titik balik bagi pembangunan ekonomi Aceh yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.
“Sudah saatnya Aceh memperoleh manfaat yang lebih besar dari kekayaan alamnya sendiri. Momentum ini tidak boleh terlewatkan,” pungkasnya.
Editor: Dahlan










