Home / Aceh Besar / Pemerintah

Rabu, 9 September 2026 - 12:49 WIB

Bupati Muharram Desak Penghentian Tambang Ilegal di Hulu Krueng Aceh

mm Redaksi

Bupati Aceh Besar Muharram Idris. Foto: Dok. MC Aceh Besar

Bupati Aceh Besar Muharram Idris. Foto: Dok. MC Aceh Besar

Kota Jantho – Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris atau Syech Muharram menanggapi kemunculan sejumlah spanduk bernada protes terkait aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan hulu Krueng Aceh.

Spanduk tanpa mencantumkan identitas kelompok pemasang tersebut terlihat di sejumlah titik strategis Kota Jantho, termasuk di sekitar plang nama Kantor Bupati Aceh Besar dan kawasan Gedung DPRK Aceh Besar, Senin (7/9/2026).

Muharram mengatakan masyarakat perlu mengetahui kewenangan pemerintah daerah dalam menangani persoalan pertambangan tersebut. Menurutnya, kewenangan terkait regulasi dan penindakan pertambangan berada pada pemerintah tingkat provinsi dan pusat.

“Masyarakat harus tahu duduk persoalan yang sebenarnya, kewenangan untuk menangani hingga menghentikan eksploitasi itu ada di level provinsi dan pusat, termasuk Badan Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) jika sudah terkait tercemarnya Krueng Aceh,” kata Muharram, Senin (7/9/2026) petang.

Meski demikian, ia mengaku prihatin terhadap dugaan aktivitas pertambangan ilegal di kawasan hulu Krueng Aceh. Menurutnya, aktivitas tersebut perlu mendapat perhatian serius karena berada di kawasan hutan lindung yang memiliki fungsi penting sebagai daerah tangkapan air.

“Sebagai pimpinan daerah dan secara pribadi, saya sangat prihatin dan menyayangkan terjadinya eksploitasi hutan lindung di hulu Krueng Aceh untuk penambangan emas atau sejenisnya yang dipastikan sebagai PETI,” ujarnya.

Muharram menyebutkan, aktivitas pertambangan tersebut berada di kawasan perbatasan Kabupaten Pidie dan Aceh Besar. Ia juga menyoroti dampaknya terhadap masyarakat di wilayah hilir Krueng Aceh.

Menurutnya, warga sejumlah gampong di Kemukiman Jantho hingga Gampong Rabo, Kecamatan Seulimuem, kini kesulitan memanfaatkan air Krueng Aceh untuk kebutuhan sehari-hari karena kondisi air yang keruh dan berlumpur.

Baca Juga :  Hadapi Ancaman Kekeringan, Pemkab Aceh Besar Matangkan Penanganan dan Distribusi Air Bersih

Padahal, sebelumnya masyarakat setempat memanfaatkan air Krueng Aceh sebagai salah satu sumber air bersih. Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian karena sebagian wilayah belum memiliki jaringan air bersih yang memadai.

“Saya pikir, wajar saja jika banyak pihak yang marah dan kecewa berat, namun sekali lagi kami tegaskan, Pemkab Aceh Besar tak punya wewenang untuk menanggulangi kondisi tersebut. Karena urusan regulasi soal tambang semuanya di level provinsi dan pusat. Bahkan Dinas Pertambangan di Kabupaten/kota telah lama dibubarkan,” kata Muharram.

Ia meminta operator pertambangan yang diduga tidak memiliki izin untuk segera menghentikan aktivitasnya karena dinilai telah memberikan dampak terhadap masyarakat di wilayah hilir.

Muharram juga secara terbuka meminta Pemerintah Aceh dan instansi terkait pengelolaan sumber daya air untuk mengambil langkah tegas terhadap persoalan tersebut.

Selain persoalan kualitas air, ia menyebut aktivitas di kawasan hulu juga dikhawatirkan berdampak terhadap debit Krueng Aceh dan suplai air untuk jaringan irigasi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi masyarakat yang bergantung pada aliran sungai untuk berbagai kebutuhan.

Sementara itu, kemunculan sejumlah spanduk protes di Kota Jantho diduga merupakan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap penanganan persoalan lingkungan di daerah aliran sungai (DAS) Krueng Aceh yang terdampak aktivitas PETI di kawasan hulu.

Muharram menegaskan penanganan persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh pihak yang memiliki kewenangan. Ia berharap persoalan lingkungan dan dampaknya terhadap masyarakat dapat segera mendapat perhatian dan langkah konkret dari instansi terkait.

“Jangan membiarkan masyarakat menjadi korban. Semua pihak terkait harus ikut bertindak,” tegasnya.

Baca Juga :  Operasional RSUD Kembali Normal, Pemkab Aceh Besar Apresiasi Tenaga Medis

KOTA JANTHO – Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris atau Syech Muharram menanggapi kemunculan sejumlah spanduk bernada protes terkait aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan hulu Krueng Aceh.

Spanduk tanpa mencantumkan identitas kelompok pemasang tersebut terlihat di sejumlah titik strategis Kota Jantho, termasuk di sekitar plang nama Kantor Bupati Aceh Besar dan kawasan Gedung DPRK Aceh Besar, Senin (7/9/2026).

Muharram mengatakan masyarakat perlu mengetahui kewenangan pemerintah daerah dalam menangani persoalan pertambangan tersebut. Menurutnya, kewenangan terkait regulasi dan penindakan pertambangan berada pada pemerintah tingkat provinsi dan pusat.

“Masyarakat harus tahu duduk persoalan yang sebenarnya, kewenangan untuk menangani hingga menghentikan eksploitasi itu ada di level provinsi dan pusat, termasuk Badan Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) jika sudah terkait tercemarnya Krueng Aceh,” kata Muharram, Senin (7/9/2026) petang.

Meski demikian, ia mengaku prihatin terhadap dugaan aktivitas pertambangan ilegal di kawasan hulu Krueng Aceh. Menurutnya, aktivitas tersebut perlu mendapat perhatian serius karena berada di kawasan hutan lindung yang memiliki fungsi penting sebagai daerah tangkapan air.

“Sebagai pimpinan daerah dan secara pribadi, saya sangat prihatin dan menyayangkan terjadinya eksploitasi hutan lindung di hulu Krueng Aceh untuk penambangan emas atau sejenisnya yang dipastikan sebagai PETI,” ujarnya.

Muharram menyebutkan, aktivitas pertambangan tersebut berada di kawasan perbatasan Kabupaten Pidie dan Aceh Besar. Ia juga menyoroti dampaknya terhadap masyarakat di wilayah hilir Krueng Aceh.

Menurutnya, warga sejumlah gampong di Kemukiman Jantho hingga Gampong Rabo, Kecamatan Seulimuem, kini kesulitan memanfaatkan air Krueng Aceh untuk kebutuhan sehari-hari karena kondisi air yang keruh dan berlumpur.

Baca Juga :  Satpol PP-WH Aceh Besar Jaring 31 Pelanggar Busana Islami

Padahal, sebelumnya masyarakat setempat memanfaatkan air Krueng Aceh sebagai salah satu sumber air bersih. Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian karena sebagian wilayah belum memiliki jaringan air bersih yang memadai.

“Saya pikir, wajar saja jika banyak pihak yang marah dan kecewa berat, namun sekali lagi kami tegaskan, Pemkab Aceh Besar tak punya wewenang untuk menanggulangi kondisi tersebut. Karena urusan regulasi soal tambang semuanya di level provinsi dan pusat. Bahkan Dinas Pertambangan di Kabupaten/kota telah lama dibubarkan,” kata Muharram.

Ia meminta operator pertambangan yang diduga tidak memiliki izin untuk segera menghentikan aktivitasnya karena dinilai telah memberikan dampak terhadap masyarakat di wilayah hilir.

Muharram juga secara terbuka meminta Pemerintah Aceh dan instansi terkait pengelolaan sumber daya air untuk mengambil langkah tegas terhadap persoalan tersebut.

Selain persoalan kualitas air, ia menyebut aktivitas di kawasan hulu juga dikhawatirkan berdampak terhadap debit Krueng Aceh dan suplai air untuk jaringan irigasi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi masyarakat yang bergantung pada aliran sungai untuk berbagai kebutuhan.

Sementara itu, kemunculan sejumlah spanduk protes di Kota Jantho diduga merupakan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap penanganan persoalan lingkungan di daerah aliran sungai (DAS) Krueng Aceh yang terdampak aktivitas PETI di kawasan hulu.

Muharram menegaskan penanganan persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh pihak yang memiliki kewenangan. Ia berharap persoalan lingkungan dan dampaknya terhadap masyarakat dapat segera mendapat perhatian dan langkah konkret dari instansi terkait.

“Jangan membiarkan masyarakat menjadi korban. Semua pihak terkait harus ikut bertindak,” tegasnya.

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Pemerintah

Ketua DPC Gerindra Simeulue Tinjau Dapur MBG, Pastikan Kesiapan Launching

Aceh Besar

Syech Muharram Tegaskan Tidak Ada Perayaan Tahun Baru Masehi di Aceh Besar

Aceh Besar

Plt Sekda Aceh Besar Ajak Komponen Daerah Komit Bangun Tata Kelola Pemerintahan yang baik dan Siaga Bencana

Aceh Besar

Bupati Aceh Besar Tinjau Persiapan Beuradeun Jelang Lomba Gampong Tingkat Provinsi Aceh

Aceh Barat

Wakil Bupati Aceh Barat Buka Sosialisasi, Dorong Optimalisasi Penerimaan Daerah

Nasional

Mendikdasmen Tinjau Sekolah Terdampak Bencana di Aceh Utara, Revitalisasi Pendidikan Jadi Prioritas Nasional

Daerah

Listrik Mati-Hidup Dua Hari, Prof. TM. Jamil : Jangan Jadikan Rakyat Korban dari Buruknya Pelayanan Publik

Aceh Besar

Aceh Besar Matangkan Pemberangkatan, Bidik Juara Umum MTQ