Home / Politik

Kamis, 13 November 2025 - 12:00 WIB

Diplomasi Toleransi Indonesia Tuai Pujian dari Austria

mm Redaksi

Perwakilan delegasi Austria, Alexander Rieger. dok. Kemenag RI

Perwakilan delegasi Austria, Alexander Rieger. dok. Kemenag RI

Jakarta – Delegasi Austria, Alexander Rieger, memuji langkah Indonesia yang berhasil memadukan diplomasi, pendidikan, dan keberagaman dalam satu program. Ia menilai Indonesia bukan hanya berbicara soal toleransi, tetapi benar-benar mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.

“Kami melihat Indonesia bukan hanya berbicara tentang toleransi, tetapi benar-benar mempraktikkannya,” ujar Alexander Rieger saat memberikan sambutan pada pembukaan Indonesian Interfaith Scholarship (IIS) 2025 di Jakarta, Rabu (12/11/2025).

“Ini menjadi pelajaran berharga bagi dunia internasional,” tambah Rieger, yang juga menjabat sebagai Minister Plenipotentiary Head of the Task Force Dialogue of Cultures and Religions.

Pembukaan IIS 2025 dilakukan oleh Sekjen Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin, dan dihadiri perwakilan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) serta Pemerintah Austria. Acara diawali dengan jamuan resepsi bersama para peserta dan pejabat kedua negara.

Baca Juga :  Menag dan Dubes Inggris Bahas Kerja Sama Pendidikan bagi Santri

Program Indonesian Interfaith Scholarship merupakan kerja sama antara Kemenag dan Kemenlu RI, dengan dukungan Pemerintah Austria. Kegiatan yang digelar pada 12–20 November 2025 itu mengusung tema “Harmonizing Culture and Religion in Indonesia”.

Program ini mempertemukan tokoh muda lintas agama, akademisi, dan diplomat dari berbagai negara untuk mempelajari praktik kerukunan dan toleransi beragama di Indonesia.

Baca Juga :  Dosen UIN KHAS Jember Paparkan Peran Pemimpin Agama di Konferensi Internasional Belanda

Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu, Heru Hartanto Subolo, menyebut IIS sebagai bagian dari diplomasi kultural Indonesia yang menampilkan wajah Islam dan keberagamaan yang inklusif.

“Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam mengelola keberagaman. Melalui program ini, kami ingin berbagi praktik terbaik kepada dunia tentang bagaimana toleransi dan harmoni bisa menjadi bagian dari identitas nasional,” kata Heru.

Baca Juga :  DPR Aceh Siap Kawal Ketat Hak Pekerja, Rijaluddin: Tak Ada Tempat bagi Perusahaan Nakal

Ia berharap IIS dapat menjadi wadah jejaring antarpegiat perdamaian global. “Kami berharap para peserta dapat menjadi jembatan antarbangsa, membawa semangat dialog dan kolaborasi dari Indonesia ke negara masing-masing,” tambahnya.

Selama delapan hari, peserta akan mengunjungi sejumlah daerah dengan latar belakang budaya dan agama berbeda seperti Bogor, Semarang, Yogyakarta, dan Bali. Program ini diharapkan melahirkan generasi duta perdamaian lintas agama yang membawa nilai-nilai harmoni Indonesia ke dunia internasional.***

Editor: RedaksiReporter: Redaksi

Share :

Baca Juga

Pemerintah Aceh

Bang Jack Libya Minta Publik Tak Besarkan Isu Ketua DPRA dan Sekda Aceh

Politik

Mantan Petempur GAM: Syardani Muhammad Syarif Layak Masuk Kabinet Merah Putih

Politik

Kemenag Tekankan Pentingnya Teknologi Image Processing dalam Rukyatulhilal di Forum MABIMS 2025

Politik

Menag Nasaruddin Umar Bahas Deklarasi Istiqlal-Vatikan dengan Paus Leo XIV di Roma

Politik

DPR RI Desak Pemerintah Perhatikan Nasib Wartawan yang Terpukul Akibat Medsos Tak Beraturan

Parlementarial

Tgk Agam Desak DPRA Bentuk Pansus, Bongkar Dugaan Pengkhianatan Negara Terkait Pengalihan Empat Pulau Aceh ke Sumut

Politik

Ali Basrah Apresiasi Kapolda Aceh atas Pengerahan K9 ke Perbatasan Aceh Tenggara

Politik

DPR Minta Tambang Ilegal Papua Segera Ditindak Tegas