Home / News

Selasa, 14 Oktober 2025 - 09:51 WIB

Aceh Gaet Investasi Unggas Ramah Lingkungan di Tiongkok

mm Syaiful AB

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, di dampingi Dirut. PT. PEMA Mawardi Nur serta TIM DPMPTSP menghadiri serta memaparkan serangkaian peluang investasi strategis Aceh di hadapan para investor Tiongkok & Asean pada Forum Konferensi Pengembangan kerja sama pangan & Pertanian China (Henan) - ASEAN 2025 di Zhengzhou, Tiongkok, Senin, 13 Oktober 2025. dok. Ist

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, di dampingi Dirut. PT. PEMA Mawardi Nur serta TIM DPMPTSP menghadiri serta memaparkan serangkaian peluang investasi strategis Aceh di hadapan para investor Tiongkok & Asean pada Forum Konferensi Pengembangan kerja sama pangan & Pertanian China (Henan) - ASEAN 2025 di Zhengzhou, Tiongkok, Senin, 13 Oktober 2025. dok. Ist

Zhengzhou — Gubernur Aceh H. Muzakir Manaf memaparkan berbagai peluang investasi strategis di Aceh dalam ajang China (Henan)-ASEAN Food and Agricultural Cooperation Development Conference 2025 yang digelar di Zhengzhou, Senin (13/10/2025).

Dalam forum internasional tersebut, Mualem—sapaan akrab Gubernur Aceh—menekankan pentingnya kolaborasi konkret antarnegara untuk memperkuat ketahanan pangan dan mendorong investasi berkelanjutan.

Salah satu agenda utama konferensi adalah penandatanganan Nota Kesepahaman antara PT Pembangunan Aceh (PEMA) dan perusahaan teknologi asal Henan, Zhongke Holdings Green Technology Co., Ltd. Kemitraan ini difokuskan pada pembangunan kawasan industri unggas dan telur berteknologi tinggi serta ramah lingkungan di Aceh.

Baca Juga :  Ketua PBN Aceh, Drs. Isa Alima, Apresiasi Langkah Forbes dalam Menyikapi Polemik Empat Pulau di Aceh Singkil

“Konferensi ini bukan hanya tempat berdiskusi, tetapi katalisator untuk bertindak. Hari ini, kita bergerak dari dialog menuju kemitraan konkret,” ujar Mualem.

Gubernur menyebut proyek kerja sama ini sebagai “contoh cemerlang dari kolaborasi bermanfaat” yang diharapkan mampu mendorong peningkatan produktivitas, transfer teknologi, serta memperluas jejaring ekonomi Aceh di tingkat internasional.

Selain sektor agribisnis, Mualem juga memperkenalkan potensi sumber daya alam Aceh seperti emas, tembaga, besi, dan batu bara, serta peluang investasi di industri minyak dan gas bumi yang menjadi pilar ekonomi utama daerah tersebut.

Baca Juga :  Tegas Perangi Narkoba, Begini Instruksi Kapolresta Banda Aceh ke Jajarannya

Menurutnya, posisi geografis Aceh yang strategis—berada di jalur utama pelayaran internasional dan pintu masuk barat Indonesia—menjadi nilai tambah besar bagi investor asing.

“Kemitraan ini menawarkan gerbang strategis menuju pasar Indonesia dan ASEAN yang lebih luas bagi para mitra dari Tiongkok,” ujar Mualem.

Ia juga menegaskan komitmen Pemerintah Aceh dalam menciptakan iklim investasi yang sehat, transparan, dan berkelanjutan, dengan dukungan penuh dari regulasi dan kebijakan pemerintah pusat.

Baca Juga :  Ombudsman: Mari Pastikan Tidak Ada Pungli dan Kecurangan pada SMPB/PPDB 2025

“Mari kita terus membangun jembatan kerja sama, inovasi, dan persahabatan ini demi kemajuan bersama,” ujarnya.

Dalam kunjungan kerja ini, Gubernur didampingi sejumlah pejabat dan delegasi bisnis utama dari Aceh, antara lain Rahmadhani dari DPMPTSP Aceh, Staf Ahli Gubernur Teuku Irsyadi, Dirut PEMA Mawardi Nur, serta Ketua KADIN Aceh Muhammad Iqbal.***

Editor: DahlanReporter: Syaiful AB

Share :

Baca Juga

News

Hati-hati, Hoaks Akun Facebook “Gubernur Aceh” Tawarkan Bantuan Palsu

Hukrim

Polres Aceh Timur Berhasil Amankan Pelaku Pembobol Agen BSI Link di Peureulak

Daerah

Peringati Hari Talasemia Sedunia, Istri Wagub Aceh Mukarramah Santuni Pasien Talasemia di RSUDZA

News

SPT Online 2026 Lewat Coretax Menggunakan Kode Otorisasi/Sertifikat Digital, Ini Cara Buat

Daerah

Tegas Perangi Narkoba, Begini Instruksi Kapolresta Banda Aceh ke Jajarannya

Aceh Besar

Waspada! Nama Bupati Aceh Besar Dicatut untuk Modus Penipuan di Medsos

Nasional

Kasasi Harvey Moeis Ditolak MA, Tetap Dihukum 20 Tahun Penjara

Daerah

Lagi, Kodam IM menerima penyerahan satu pucuk senjata sisa konflik dari masyarakat