BANDA ACEH – Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat strategi pengembangan investasi dengan melibatkan pelaku usaha lokal sebagai bagian penting dari pertumbuhan ekonomi daerah.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, penanam modal, dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), investasi diharapkan tidak hanya menghadirkan peluang bisnis baru, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk tumbuh dan berkembang bersama.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menegaskan bahwa pengembangan UMKM harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penguatan kapasitas usaha, akses permodalan, peningkatan kualitas produk, hingga perluasan jaringan pemasaran.
“Tugas kita bersama adalah menghubungkan potensi-potensi ini dengan permodalan, ilmu pengetahuan, teknologi digital, dan jaringan pasar yang lebih luas,” kata Illiza, dikutip pada Senin (2/11/2026).
Hal yang sama juga disampaikan Illiza saat menghadiri kegiatan Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) Akbar kolaborasi PNM dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Banda Aceh, Jumat (14/8/2026) lalu.
Komitmen tersebut sejalan dengan langkah Pemko Banda Aceh yang mempertemukan pelaku UMKM dengan penanam modal melalui kegiatan Perintis Berdaya Connect Aceh Business Matching yang diselenggarakan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) bersama Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat di Ballroom Bapelkes, Banda Aceh, pada Kamis (27/8/2026).
Kegiatan yang saat itu dibuka Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdako Banda Aceh, Faisal, S.STP, mempertemukan 21 pelaku UMKM dengan 13 Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN), khususnya dari sektor perhotelan dan kesehatan. Pertemuan tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan potensi usaha lokal sekaligus menjajaki peluang kemitraan dengan perusahaan.
Dari kegiatan itu, tercatat sebanyak 13 Letter of Intent (LoI) atau surat pernyataan minat kerja sama. Capaian ini menjadi langkah awal untuk membangun hubungan bisnis yang lebih konkret antara UMKM dan calon mitra usaha.
Bagi Illiza, keterlibatan UMKM dalam ekosistem investasi merupakan bagian penting dari upaya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Investasi yang berkembang di Banda Aceh diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas, termasuk membuka kesempatan bagi pengusaha lokal untuk menjadi bagian dari rantai pasok perusahaan.
Dengan terbukanya peluang kemitraan, UMKM dapat mengembangkan peran sebagai pemasok berbagai kebutuhan usaha, penyedia jasa, maupun mitra produksi. Sektor perhotelan dan kesehatan, misalnya, memiliki kebutuhan produk dan layanan yang dapat menjadi peluang pasar bagi pelaku usaha lokal.
Illiza menyebutkan, Banda Aceh memiliki 47.450 UMKM aktif yang tersebar di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, pariwisata, kuliner, ekonomi kreatif, jasa pendidikan, usaha digital, hingga wisata bahari dan perikanan. Potensi tersebut merupakan kekuatan ekonomi yang perlu terus dikembangkan melalui dukungan lintas sektor.
Menurutnya, pengembangan usaha tidak cukup hanya mengandalkan tambahan modal. Pelaku UMKM juga perlu mendapatkan pengetahuan, pendampingan berkelanjutan, penguatan literasi keuangan, serta keberanian berinovasi agar mampu meningkatkan skala usaha dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Karena itu, Pemko Banda Aceh terus mendorong berbagai program penguatan ekonomi masyarakat, termasuk melalui Program CEPAT (Penguatan dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat) dalam RPJM Kota Banda Aceh 2025–2029. Pengembangan keterampilan melalui Banda Aceh Academy dan digitalisasi UMKM melalui Aplikasi Usaha Teman juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas serta daya saing pelaku usaha.
Illiza menegaskan, Pemerintah Kota Banda Aceh terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi yang dapat memperkuat perekonomian masyarakat. Sinergi dengan lembaga keuangan, dunia usaha, investor, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan mampu menciptakan ekosistem bisnis yang semakin produktif.
“Pemerintah Kota Banda Aceh siap membuka pintu kolaborasi selebar-lebarnya demi mewujudkan UMKM Banda Aceh yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing tinggi,” tegasnya.
Melalui penguatan kemitraan dan perluasan akses investasi, Pemko Banda Aceh optimistis pelaku UMKM lokal semakin memiliki kesempatan untuk naik kelas. Ke depan, kolaborasi yang terbangun diharapkan tidak hanya menghasilkan kesepakatan bisnis, tetapi juga mendorong tumbuhnya usaha baru, memperluas kesempatan kerja, dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian kota.[]
Editor: RedaksiReporter: Ratish











