Banda Aceh – Aceh mencatat indeks literasi keuangan syariah sebesar 65,18 persen dan inklusi keuangan syariah sebesar 72,76 persen berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026.
Capaian tersebut menempatkan Aceh pada peringkat pertama nasional untuk kedua indikator. Angka ini menjadi modal penting dalam memperkuat pembiayaan usaha produktif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Meski demikian, tantangan berikutnya adalah memastikan tingginya pemahaman dan akses masyarakat terhadap layanan keuangan syariah benar-benar berdampak pada aktivitas ekonomi, terutama pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Hal tersebut menjadi salah satu fokus Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui penyelenggaraan Syariah Financial Fair (SYAFIF) Goes to Aceh 2026 di Pelataran Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada 9–11 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi puncak Bulan Inklusi Keuangan (BIK) Aceh 2026 dengan tema “Akses Keuangan Merata, Ekonomi Berdaya, Masyarakat Sejahtera”.
Kepala OJK Provinsi Aceh, Daddi Peryoga, menegaskan bahwa keberhasilan inklusi keuangan tidak cukup diukur dari banyaknya masyarakat yang memiliki akses terhadap layanan keuangan. Pemanfaatan produk keuangan secara tepat dan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat juga menjadi ukuran penting.
“Keberhasilan inklusi keuangan tidak hanya kita ukur dari luasnya akses, tetapi juga dari ketepatan pemanfaatan dan manfaat nyata yang masyarakat rasakan. Karena itu, OJK terus mendorong industri jasa keuangan untuk menghadirkan solusi keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi Aceh,” kata Daddi saat pembukaan kegiatan, Jumat (9/10/2026).
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Aceh, Taufik, yang mewakili Pemerintah Aceh. Ia mengajak masyarakat memanfaatkan kegiatan itu untuk memperdalam pemahaman tentang produk keuangan syariah, berkonsultasi langsung dengan industri jasa keuangan, serta menjajaki peluang pengembangan usaha.
“Kita ingin ekonomi syariah tumbuh bukan hanya sebagai konsep, tetapi menjadi kekuatan nyata dalam membuka kesempatan usaha, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat Aceh,” ujar Taufik.
Pembiayaan Produktif Jadi Tantangan Berikutnya
Berdasarkan data SNLIK 2026 yang disampaikan OJK, indeks literasi keuangan syariah Aceh mencapai 65,18 persen, jauh di atas angka nasional sebesar 43,07 persen.
Sementara itu, indeks inklusi keuangan syariah Aceh mencapai 72,76 persen, dibandingkan angka nasional sebesar 13,24 persen.
Kepala Direktorat Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah OJK, Andi Muhammad Yusuf, menyebutkan capaian tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan ekosistem keuangan syariah yang semakin inklusif dan berkontribusi terhadap perekonomian daerah.
“OJK mendorong Aceh tidak hanya menjadi provinsi dengan tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah tertinggi, tetapi juga menjadi percontohan nasional dalam pemanfaatan keuangan syariah untuk memperkuat ekonomi keluarga, mendukung usaha produktif, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Andi.
Penguatan ekosistem ekonomi syariah Aceh juga tercermin dari keberhasilan provinsi ini meraih sembilan penghargaan dalam Anugerah Adinata Syariah 2026.
Daddi menambahkan, industri jasa keuangan syariah perlu memperluas kontribusinya terhadap perekonomian daerah. Pengembangan layanan dan pembiayaan produktif, menurutnya, harus melibatkan seluruh pelaku industri agar manfaat pertumbuhan sektor keuangan dapat dirasakan lebih merata.
Bank Salurkan KUR Rp380 Miliar, 1.000 Polis Asuransi Disiapkan
Dalam rangka puncak BIK Aceh 2026, OJK bersama industri jasa keuangan syariah memperkuat perluasan akses melalui inisiatif “1 PUJK, 1 Solusi, 1 Komitmen”.
Program ini mendorong setiap Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) memahami kebutuhan masyarakat, menyediakan solusi yang sesuai, serta memastikan tindak lanjutnya memberikan manfaat nyata.
Sejumlah komitmen industri jasa keuangan syariah selama Oktober 2026 meliputi:
- Bank Aceh Syariah: realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp30 miliar.
- Bank Syariah Indonesia (BSI): penyaluran KUR sebesar Rp350 miliar dan tabungan emas sebesar Rp75 miliar.
- Jasindo Syariah: pemberian 1.000 polis asuransi bagi pelajar dan mahasiswa.
- Bursa Efek Indonesia bersama BNI Sekuritas: pembukaan 600 rekening efek gratis melalui Galeri Investasi Syariah Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Aceh.
Selain itu, BSI bersama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dan Kementerian Agama menyediakan kuota sertifikasi halal bagi 275 UMKM.
Dukungan tersebut diharapkan memperluas akses pelaku usaha terhadap pembiayaan, perlindungan asuransi, investasi, dan sertifikasi halal yang dapat membantu meningkatkan daya saing usaha.
Hingga semester I 2026, penyaluran KUR di Aceh tercatat mencapai Rp1,98 triliun kepada 17.267 debitur. Angka tersebut menunjukkan besarnya peran pembiayaan dalam mendukung kegiatan usaha masyarakat, sekaligus menjadi dasar untuk memperluas akses modal bagi pelaku usaha produktif.
Masyarakat Bisa Berkonsultasi Langsung
Melalui SYAFIF Goes to Aceh 2026, masyarakat tidak hanya mendapatkan informasi tentang produk dan layanan keuangan syariah, tetapi juga berkesempatan berkonsultasi langsung dengan penyedia jasa keuangan untuk menemukan solusi sesuai kebutuhan.
“Akses membuka kesempatan, solusi menciptakan manfaat, dan komitmen memastikan dampak. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan bahwa setiap perluasan akses keuangan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Daddi.
SYAFIF Goes to Aceh merupakan hasil kolaborasi OJK bersama Organizing Committee Orkestrasi Program Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah (OC LIKS) serta Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan Provinsi Aceh.
Kegiatan ini turut didukung pemerintah daerah, kementerian/lembaga, pelaku UMKM, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan.
Selama tiga hari pelaksanaan, masyarakat dapat mengakses berbagai layanan, termasuk pembukaan rekening dan kepesertaan asuransi. Kegiatan juga diisi konsultasi keuangan, gelar wicara, edukasi, bazar UMKM, stan edukasi OJK dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), perlombaan, hiburan, serta pembagian hadiah.
Daddi mengatakan, kehadiran puluhan pelaku usaha jasa keuangan di ruang publik seperti halaman Masjid Raya Baiturrahman merupakan upaya mendekatkan layanan keuangan kepada masyarakat.
Dengan demikian, masyarakat dapat mengenal berbagai pilihan produk keuangan syariah, mulai dari perbankan, pembiayaan, hingga layanan keuangan lainnya.
SYAFIF Goes to Aceh 2026 terbuka untuk umum pada 9–11 Oktober 2026, mulai pukul 10.00 hingga 23.00 WIB.
Bulan Inklusi Keuangan merupakan program tahunan OJK bersama kementerian/lembaga dan industri jasa keuangan yang digelar setiap Oktober untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan.
Program tersebut juga mendukung target inklusi keuangan nasional sebesar 98 persen pada 2045, sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045.
OJK menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Aceh, industri jasa keuangan, dan seluruh pemangku kepentingan agar ekosistem keuangan syariah semakin inklusif, produktif, dan berkelanjutan, serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh. [*]
Editor: Dahlan











