BANDA ACEH – Ruang terbuka memiliki peran penting dalam kehidupan perkotaan. Taman menjadi tempat masyarakat berolahraga, anak-anak bermain, keluarga menghabiskan waktu bersama, dan komunitas menyelenggarakan kegiatan. Kini, perkembangan teknologi memberikan dimensi baru bagi pemanfaatan ruang publik tersebut melalui akses internet.
Kepala Diskominfotik Banda Aceh melalui Kepala Bidang E-Government, Asna Mardhia, S.STP mengatakan penyediaan Wi-Fi gratis di sejumlah ruang publik Banda Aceh menjadi salah satu bentuk pemanfaatan teknologi untuk mendukung aktivitas masyarakat.
“Fasilitas ini memberikan pilihan akses internet bagi warga yang ingin tetap terhubung ketika berada di luar rumah,” ungkapnya, dikutip pada Senin (19/10/2026).
Taman Bustanussalatin atau Taman Sari merupakan salah satu lokasi yang diumumkan mendapat fasilitas Wi-Fi gratis melalui kerja sama Pemerintah Kota Banda Aceh dengan PT Telkom. Program tersebut diumumkan pada Mei 2025 sebagai bagian dari pengembangan akses internet di ruang publik.
Selain Taman Bustanussalatin, kata Asna, lokasi yang diumumkan mencakup Hutan Kota Tibang dan Taman Trembesi Keudah. Fasilitas Wi-Fi juga diumumkan tersedia di kawasan wisata tsunami PLTD Apung dan Kapal di Atas Rumah.
“Kehadiran konektivitas internet memberikan nilai tambah bagi masyarakat yang menggunakan taman dan ruang terbuka. Pengunjung dapat mencari informasi, membaca berita, berkomunikasi dengan keluarga, atau mengakses materi digital ketika fasilitas tersedia dan berfungsi dengan baik,” jelasnya.
Bagi keluarga, ruang publik tetap menjadi tempat untuk berinteraksi secara langsung. Akses internet dapat menjadi fasilitas pendukung, tetapi penggunaannya perlu diseimbangkan dengan aktivitas fisik, rekreasi, dan komunikasi antar keluarga.
Bagi komunitas, konektivitas dapat membantu penyebaran informasi kegiatan, koordinasi anggota, dan dokumentasi aktivitas. Komunitas pendidikan, olahraga, seni, dan lingkungan juga dapat memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan kegiatan mereka.
“Wi-Fi publik turut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengenal layanan digital tanpa harus selalu menggunakan kuota internet pribadi,” ujarnya.
Pemerintah dan penyedia layanan juga dapat melakukan evaluasi berkala dengan memperhatikan pola penggunaan dan masukan masyarakat. Evaluasi tersebut dapat membantu menentukan apakah kapasitas jaringan perlu ditambah atau lokasi akses perlu disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung.
Dalam pengembangan kota yang ramah digital, akses internet berjalan beriringan dengan kualitas ruang publik. Kebersihan, kenyamanan, pencahayaan, keamanan, dan fasilitas bagi anak-anak tetap menjadi unsur penting yang menentukan apakah masyarakat ingin datang dan beraktivitas di suatu tempat.
Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, Wi-Fi gratis dapat menjadi pelengkap ruang terbuka yang semakin relevan dengan kebutuhan warga. Ruang publik tidak hanya menjadi tempat untuk beristirahat, tetapi juga dapat mendukung kegiatan belajar, komunikasi, dan akses informasi dalam kehidupan perkotaan.(*)
Editor: RedaksiReporter: Ratish











