Home / Parlementarial

Jumat, 27 Februari 2026 - 17:07 WIB

Taman Bustanussalatin Terancam Kehilangan Fungsi Hijau, DPRK Minta Wali Kota Lakukan Penataan Ulang

mm Redaksi

Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Daniel Abdul Wahab memberikan keterangan kepada wartawan terkait penataan ulang Taman Bustanussalatin, Rabu (25/2/2026). Foto: Dok. DPRK Banda Aceh

Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Daniel Abdul Wahab memberikan keterangan kepada wartawan terkait penataan ulang Taman Bustanussalatin, Rabu (25/2/2026). Foto: Dok. DPRK Banda Aceh

Banda Aceh – Taman Bustanussalatin atau yang sebelumnya dikenal sebagai Taman Sari kembali menjadi sorotan publik. Ruang terbuka hijau (RTH) yang berada di jantung Kota Banda Aceh itu dinilai tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang sejak masa Kesultanan Aceh hingga era kolonial.

Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Daniel Abdul Wahab, mendesak agar kawasan tersebut dikembalikan sepenuhnya sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) demi kepentingan warga kota.

Ia menyebut Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, memiliki kapasitas dan komitmen untuk memulihkan keindahan serta marwah taman bersejarah tersebut.

Jejak Sejarah dari Kesultanan hingga Kolonial

Nama Bustanussalatin merujuk pada karya sastra monumental abad ke-17, Bustanus Salatin (Taman Para Raja), yang menjadi simbol kemegahan dan estetika ruang dalam tradisi pemerintahan Aceh masa silam.

Baca Juga :  TKD Aceh 2026 Aman dari Efisiensi, DPRA Minta Penggunaan Tepat Sasaran

Secara historis, kawasan ini diyakini merupakan bagian dari lanskap inti Kerajaan Aceh Darussalam. Pada masa kolonial Belanda, Banda Aceh yang saat itu dikenal sebagai Koetaradja ditata ulang dengan pendekatan perencanaan kota ala Eropa.

Sejumlah elemen tata kota modern dibangun di sekitar pusat pemerintahan kolonial, termasuk keberadaan menara air (water toren) yang hingga kini masih menjadi penanda visual kawasan tersebut.

Pasca kemerdekaan, taman ini diperkuat identitasnya sebagai ruang publik kota dan diberi nama Taman Bustanussalatin untuk menegaskan akar historis Aceh.

Kekhawatiran Berkurangnya Tutupan Hijau

Dalam dokumen RTRW dan RDTR Kota Banda Aceh, taman ini ditetapkan sebagai Zona Ruang Terbuka Hijau (RTH-2) dengan fungsi utama taman kota, yang menempatkan dominasi vegetasi dan ruang terbuka alami sebagai mandat utama.

Baca Juga :  Daniel Abdul Wahab Serahkan Bantuan Ambal Sajadah untuk Masjid Kemukiman Lamjabat

Namun, sejumlah kajian teknis terbaru menunjukkan adanya indikasi berkurangnya tutupan hijau efektif serta meningkatnya elemen terbangun di dalam kawasan taman. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan menurunnya fungsi ekologis.

“Taman Bustanussalatin adalah simbol sejarah dan identitas kota. Kita ingin mengembalikannya sebagai ruang terbuka hijau yang nyaman dan layak bagi warga Banda Aceh,” tegas Daniel, Rabu (25/2/2026).

Dorong Audit dan Penataan Sesuai Tata Ruang

Politisi Partai NasDem itu menegaskan revitalisasi taman harus berpijak pada dua aspek utama, yakni pelestarian sejarah dan pemulihan fungsi ekologis.

Ia mendesak dilakukan audit teknis terhadap luas tutupan hijau dan area terbangun, penataan ulang fasilitas sesuai batas Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan Koefisien Dasar Hijau (KDH), rehabilitasi vegetasi, peningkatan daya resap air, serta penegasan fungsi taman sebagai RTH, bukan ruang komersial.

Baca Juga :  Aulia Afridzal Resmi Jadi Sekretaris DPD PAN Banda Aceh Periode 2026–2031

Daniel juga optimistis kepemimpinan Illiza mampu melakukan penataan ulang secara terukur dan tidak bertentangan dengan regulasi tata ruang.

“Dengan komitmen yang tepat, taman ini bisa kembali menjadi kebanggaan masyarakat. Menjadikan taman yang sejuk, hijau, dan merepresentasikan warisan sejarah Aceh,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan revitalisasi Taman Bustanussalatin akan menjadi indikator keseriusan Pemerintah Kota dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan.

“Wali Kota harus menjadikan Bustanussalatin sebagai taman yang dikenang warga sebagai pusat kerajaan Islam terkemuka di Asia Tenggara, melewati masa kolonial, hingga menjadi ibu kota provinsi modern, agar sejarahnya tidak dilupakan,” pungkasnya.

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Nasir Djamil

Parlementarial

Nasir Djamil Apresiasi Polri dalam Vonis Alice Guo

Parlementarial

Ribuan KL CPO Aceh Mengalir ke Medan Setiap Hari, DPRA Soroti Hilangnya Nilai Tambah Daerah

Parlementarial

Paripurna DPRA Bahas LKPJ 2025, Ketua DPR Aceh Tekankan Fungsi Pengawasan

Parlementarial

Pendapatan Aceh 2025 Capai Rp10,7 Triliun, Dek Fadh Jawab Catatan Banggar DPRA

Parlementarial

Serambi Award 2026 Apresiasi Kiprah Irwansyah sebagai Wakil Rakyat Responsif

Daerah

Serap Aspirasi Warga Dapil III, Hj. Efiaty Gelar Reses Sekaligus Pererat Silaturahmi Bersama Masyarakat Syiah Kuala

Parlementarial

DPRA Jadwalkan Jawaban Gubernur Aceh atas Pendapat Banggar APBA 2025

Parlementarial

Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Yakin Presiden Prabowo Akan Berikan Respons Positif untuk Sengketa Tanah Blang Padang