Banda Aceh — Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, menyampaikan apresiasi kepada para relawan yang terlibat langsung dalam penanganan bencana hidrometeorologi di Aceh. Ia menegaskan bahwa kehadiran relawan di lapangan tidak hanya berperan dalam penyaluran bantuan, tetapi juga memberikan dukungan psikologis serta kebahagiaan bagi masyarakat terdampak.
Apresiasi tersebut disampaikan M. Nasir saat menerima kunjungan tim relawan Rumah Zakat di ruang kerja Sekda Aceh, Senin (15/12/2025). Pertemuan ini turut dihadiri Area Business Leader Paragon Corp DC Aceh selaku mitra Rumah Zakat, Hasnel Mansur, influencer sekaligus relawan Rumah Zakat Tugba Kiara, serta Kepala Baitul Mal Aceh, Muhammad Yunus M. Yusuf (Abon Yunus).
Dalam kesempatan tersebut, M. Nasir memaparkan perkembangan terkini dampak bencana hidrometeorologi di Aceh. Ia menyebutkan bahwa jumlah warga terdampak hampir mencapai 2 juta jiwa. Sementara jumlah pengungsi yang sebelumnya mencapai sekitar 1 juta orang kini telah menurun menjadi kurang lebih 400 ribu jiwa.
Terkait penanganan pascabencana, M. Nasir menjelaskan bahwa tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) saat ini tengah dibahas bersama pemerintah pusat. Hal ini mengingat kerusakan infrastruktur akibat bencana hidrometeorologi kali ini tergolong sangat masif, bahkan disebut melebihi dampak bencana tsunami 2004 di beberapa wilayah.
Sekda Aceh juga mendorong para relawan untuk dapat melakukan intervensi pada rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan ringan, salah satunya melalui bantuan pembersihan rumah. Langkah tersebut dinilai penting untuk mempercepat kepulangan para pengungsi ke rumah masing-masing, terutama menjelang bulan suci Ramadan.
“Semakin banyak pengungsi yang bisa kembali ke rumah tentu semakin baik. Pengungsian selalu menyisakan persoalan baru, baik secara sosial maupun kesehatan. Karena itu, kita terus berupaya agar masyarakat yang masih mengungsi bisa segera dipulangkan,” ujar M. Nasir.
Dalam pertemuan tersebut, Tugba Kiara turut berbagi pengalamannya selama menjadi relawan Rumah Zakat di lokasi bencana. Ia menggambarkan kondisi lapangan yang memprihatinkan, mulai dari terputusnya aliran listrik, endapan lumpur yang tebal, hingga kondisi pengungsi penyandang disabilitas yang membutuhkan perhatian khusus.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah saat seorang ibu pengungsi meminta Al-Qur’an karena mushaf miliknya hanyut terbawa banjir. “Di tengah keterbatasan makanan, listrik, dan air, ibu tersebut justru meminta Al-Qur’an. Itu sangat menyentuh hati saya,” ungkap Tugba. Ia menambahkan, meski berada dalam kondisi sulit, para pengungsi tetap tabah dan mampu tersenyum.
Sementara itu, Rumah Zakat menegaskan komitmennya untuk terus terlibat aktif dalam penanganan bencana di Aceh. Lembaga kemanusiaan tersebut juga akan mengajak lebih banyak mitra untuk berkolaborasi, khususnya dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi.
Selain itu, Rumah Zakat saat ini tengah berkoordinasi dengan BNPB untuk mendirikan sekolah ramah anak di Kabupaten Pidie Jaya yang direncanakan dapat dikembangkan ke kabupaten lain. Kehadiran relawan diharapkan dapat memberikan penguatan mental dan spiritual bagi masyarakat terdampak.
Sekda Aceh menilai bahwa penanganan bencana tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik dan logistik, tetapi juga mencakup pemulihan psikis dan spiritual masyarakat. Menurutnya, kehadiran relawan, termasuk influencer yang turun langsung ke lapangan, memiliki peran besar dalam menghadirkan harapan dan semangat bagi korban bencana.
Editor: Dahlan













