Bandar Dua – Jauh di kawasan pedalaman Gampong Kumba, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, tepat di sekitar aliran Sungai Krueng Lhok Gob, masyarakat masih mempertahankan sebuah tradisi kenduri yang diwariskan secara turun-temurun.
Kenduri yang digelar di kawasan aliran sungai tersebut bukan sekadar kegiatan makan bersama. Bagi masyarakat, tradisi ini menjadi momentum untuk memanjatkan doa memohon keberkahan, keselamatan, serta kelancaran aliran air irigasi yang sangat penting bagi aktivitas pertanian, khususnya dalam menghadapi musim tanam padi.
Suasana kenduri semakin terasa khidmat ketika ribuan warga dari berbagai gampong berdatangan ke kawasan tersebut. Para petani, ulama, santri atau aneuk dayah, serta masyarakat dari berbagai penjuru Kecamatan Bandar Dua berbaur dalam satu kegiatan yang sarat dengan nilai keagamaan, kebersamaan dan gotong royong.
Rangkaian kegiatan diawali dengan zikir dan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Dengan khusyuk, warga memanjatkan doa agar musim tanam berjalan lancar, tanaman padi tumbuh subur, hasil pertanian diberi keberkahan, serta masyarakat dijauhkan dari berbagai musibah.
Usai zikir dan doa, masyarakat kemudian melaksanakan penyembelihan hewan, berupa kerbau, di bawah pohon angsana yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan bak asan. Tempat tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi kenduri yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Daging hasil sembelihan selanjutnya diolah secara bersama-sama. Warga bergotong royong memasak berbagai hidangan untuk kemudian disantap bersama.
Momen makan bersama atau khanduri menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan. Tidak ada sekat antara ulama, santri, petani maupun masyarakat lainnya. Mereka duduk bersama menikmati hidangan sebagai wujud rasa syukur sekaligus mempererat tali silaturahmi.
Menariknya, tidak jauh dari lokasi kenduri terdapat sebuah batu datar berukuran besar yang dikenal masyarakat dengan nama Batee Tika Meuadee. Batu tersebut kerap dimanfaatkan warga sebagai tempat melaksanakan salat berjamaah ketika kegiatan kenduri berlangsung.
Keberadaan Batee Tika Meuadee menjadi bagian tersendiri dari kawasan kenduri. Di tengah suasana alam pedalaman yang masih asri dan aliran Krueng Lhok Gob yang menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat, tradisi keagamaan dan kearifan lokal tersebut terus dijaga.
Bagi masyarakat setempat, Kenduri Krueng Lhok Gob bukan sekadar warisan budaya. Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi ruang untuk memperkuat hubungan manusia dengan Allah SWT, menjaga silaturahmi antarmasyarakat, sekaligus meneguhkan semangat gotong royong yang telah menjadi bagian dari kehidupan para petani di pedalaman Bandar Dua.
Tradisi yang terus dipertahankan itu juga memperlihatkan eratnya hubungan antara agama, alam dan kehidupan pertanian. Semuanya berpadu dalam sebuah kegiatan yang diwariskan dari generasi ke generasi, di tengah kawasan pedalaman yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bandar Dua.
Editor: DahlanReporter: Muhammad Iqbal










