Home / Pendidikan

Minggu, 19 Juli 2026 - 08:49 WIB

Mahasiswi UIN Ar-Raniry Tembus Program Summer School NUS, Bawa Semangat Belajar ke Kancah Internasional

mm Redaksi

Mahasiswi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Putri Munira Ponnui, mengikuti kegiatan Fast Track Summer School 2026 di National University of Singapore (NUS). Foto: Dok. Istimewa

Mahasiswi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Putri Munira Ponnui, mengikuti kegiatan Fast Track Summer School 2026 di National University of Singapore (NUS). Foto: Dok. Istimewa

Singapura – Semangat belajar, keberanian keluar dari zona nyaman, dan tekad untuk mengukir prestasi di tingkat internasional mengantarkan Putri Munira Ponnui, mahasiswi Program Studi Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, mengikuti Fast Track Summer School 2026 di National University of Singapore (NUS), salah satu universitas terbaik dunia.

Keikutsertaan Putri Munira dalam program bergengsi tersebut merupakan hasil kerja sama yang difasilitasi oleh Kantor Urusan Internasional (International Office/IO) UIN Ar-Raniry. Program ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk merasakan atmosfer pendidikan kelas dunia, memperluas jejaring internasional, serta meningkatkan kapasitas akademik di lingkungan multikultural.

Perkuliahan yang dimulai pada 30 Juni 2026 menghadirkan tantangan baru bagi Putri Munira. Ia mengikuti mata kuliah Singapore, Asia and the Global Economy (FAS2882L) yang diampu oleh Dr. Cheryl Aw, membahas transformasi Singapura menjadi salah satu pusat ekonomi global melalui kebijakan perdagangan, inovasi, dan keterbukaan ekonomi.

Pada pekan pertama, Putri Munira mengaku mengalami culture shock. Ritme pembelajaran yang cepat, tuntutan akademik yang tinggi, serta budaya masyarakat Singapura yang disiplin dan efisien menjadi pengalaman yang jauh berbeda dari lingkungan belajar yang selama ini ia kenal.

Baca Juga :  Guru TK di Kuta Raja Dilibatkan dalam Program Literasi Perpustakaan Banda Aceh lewat MoU

“Awalnya kaget karena dosennya mengajar sangat cepat dan di sini semuanya serba cepat. Tapi dosennya sangat membantu sehingga lama-kelamaan saya mulai bisa menyesuaikan diri,” ungkapnya.

Di tengah tantangan tersebut, Putri Munira mulai membangun persahabatan dengan mahasiswa dari berbagai negara. Interaksi lintas budaya itu menjadi pengalaman berharga yang memperkaya wawasan sekaligus melatih kemampuan berkomunikasi dalam lingkungan internasional.

Memasuki pekan kedua, tantangan semakin meningkat. Selain mempelajari dinamika ekonomi Asia Tenggara dan hubungan Asia dengan ekonomi global, ia harus menghadapi kuis pertama sebagai bagian dari evaluasi mata kuliah.

Menurutnya, perbedaan paling mencolok dibandingkan sistem perkuliahan di Indonesia adalah padatnya materi yang harus dipelajari dalam waktu singkat.

“Kalau di Aceh biasanya materi sekitar lima slide, di sini bisa lebih dari empat puluh slide dalam satu pertemuan. Namun semuanya dijelaskan secara mendalam sehingga benar-benar membuat kami memahami materinya,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi pendekatan pengajaran di NUS yang sangat inklusif. Saat sejumlah mahasiswa internasional mengalami kendala bahasa saat mengikuti kuis, dosen menyediakan terjemahan soal sesuai bahasa peserta dan membuka ruang konsultasi agar seluruh mahasiswa memiliki kesempatan yang sama dalam memahami materi.

Baca Juga :  Menag Dorong Kampus Islam Kembangkan Fikih Lingkungan

Memasuki pekan ketiga sekaligus pekan terakhir, Putri Munira mengaku telah berhasil menemukan ritme belajarnya. Ia semakin terbiasa mengikuti perkuliahan yang dinamis, aktif dalam diskusi kelompok, serta berkolaborasi dengan mahasiswa dari berbagai negara.

“Alhamdulillah, di minggu ketiga saya sudah mulai terbiasa. Belajar dengan ritme cepat sudah tidak terasa mengejutkan lagi,” katanya.
Ia juga mengamati budaya akademik di NUS yang sangat memanfaatkan teknologi. Hampir seluruh mahasiswa menggunakan laptop untuk mencatat, berdiskusi, hingga menyelesaikan tugas kelompok, mencerminkan ekosistem pembelajaran modern yang sangat mendukung produktivitas.

Di sela kegiatan akademik, Putri Munira memanfaatkan waktu untuk mengenal lebih dekat Singapura bersama teman-teman barunya. Kebersihan kota, keteraturan transportasi, serta kemajuan infrastrukturnya memberikan kesan mendalam selama mengikuti program tersebut.

Bagi Putri Munira, pengalaman mengikuti Fast Track Summer School 2026 bukan sekadar mengejar prestasi akademik, tetapi juga menjadi proses pembentukan karakter melalui adaptasi, kemandirian, kolaborasi lintas budaya, serta penguatan cara berpikir global yang akan menjadi bekal penting dalam perjalanan akademiknya.

Baca Juga :  Comsrat ke-8 MAN 1 Aceh Barat Resmi Dibuka, Wabup Dorong Aktualisasi Potensi Pelajar

Ketua Program Studi Ilmu Hadis, Lazuardi Muhammad Latif, Lc., M.Ag., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas capaian Putri Munira yang dinilai mampu menunjukkan kualitas mahasiswa UIN Ar-Raniry di panggung internasional.

“Partisipasi mahasiswa dalam program internasional seperti ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UIN Ar-Raniry memiliki kemampuan untuk bersaing di lingkungan akademik global. Kami berharap pengalaman yang diperoleh dapat menginspirasi mahasiswa lainnya untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan memperluas wawasan internasional,” ujarnya.

Selain Putri Munira dari Program Studi Ilmu Hadis, UIN Ar-Raniry juga mengirimkan dua mahasiswa lainnya dalam program tersebut, yakni Alya Rossa dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dan Cut Sitti Kamila Muslim dari Program Studi Hukum Ekonomi Syariah.

Keikutsertaan ketiga mahasiswa ini menjadi wujud komitmen UIN Ar-Raniry dalam mendorong internasionalisasi pendidikan tinggi sekaligus mempersiapkan generasi muda yang mampu berkompetisi, berkolaborasi, dan memberikan kontribusi nyata di tingkat global.

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Pemerintah Aceh

Perkuat Regulasi Pendidikan Islam, Dinas Dayah Aceh Dorong Qanun Dayah Pidie Jaya Lebih Komprehensif

Daerah

Kunjungi Sekolah Darurat Tanoh Jamboe Aye, Bunda Guru Aceh Beri Motivasi Siswa Terdampak Bencana

Aceh Besar

Syeh Muharram Apresiasi Pesantren Tahfidz Sulaimaniyah dan Program Khitan Massal Anak Aceh Besar

Pendidikan

MTU Aceh Bina Siswa SMKN 1 Bireuen Jadi Tenaga Siap Kerja

Pendidikan

Dikbud Bengkulu Selatan Ajukan Revitalisasi 30 SD dan 15 SMP, Target Realisasi Agustus 2026

Pendidikan

Kemenag Umumkan 153 Penerima Beasiswa Zakat Indonesia 2025, Dapat Fasilitas Hingga Rp140 Juta

Pendidikan

12 Sekolah di Aceh Utara Raih Penghargaan Adiwiyata 2025

Pendidikan

Wakil Gubernur Aceh Lanjutkan Studi S2 di USK, Rektor Apresiasi Komitmen Tingkatkan Kapasitas Diri