BANDA ACEH – Perkembangan infrastruktur digital membuka peluang yang lebih luas bagi generasi muda Banda Aceh untuk mengembangkan keterampilan dan berpartisipasi dalam ekonomi berbasis teknologi.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan konektivitas internet menjadi fondasi, sementara pendidikan, pelatihan, dan ruang kolaborasi diperlukan untuk mengubah akses digital menjadi kemampuan yang produktif.
Kebutuhan terhadap keterampilan digital terus berkembang seiring pemanfaatan teknologi dalam berbagai sektor. Desain grafis, pengembangan aplikasi, pemasaran digital, analisis data, produksi konten, hingga kecerdasan buatan menjadi bidang yang dapat dipelajari untuk menunjang pendidikan, pekerjaan, maupun kewirausahaan.
“Banda Aceh memiliki modal berupa lingkungan pendidikan, komunitas kreatif, pelaku usaha, serta jaringan internet yang mendukung aktivitas digital. Potensi ini dapat dikembangkan melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas teknologi,” katanya, dikutip Kamis (15/20/2026).
Pada 2026, Pemerintah Kota Banda Aceh bersama Kementerian Komunikasi dan Digital mendorong pengembangan Banda Aceh Academy (BAA) dan Garuda Spark Innovation Hub (GSIH). Inisiatif tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan talenta digital, kolaborasi, serta inovasi berbasis teknologi.
Banda Aceh Academy diharapkan menjadi bagian dari upaya pengembangan kemampuan masyarakat dalam menghadapi perubahan teknologi. Sementara itu, Garuda Spark Innovation Hub diarahkan untuk mendorong interaksi antara talenta, komunitas, startup, lembaga pendidikan, dan pelaku industri.
Pengembangan ekosistem seperti ini penting karena akses internet saja tidak cukup untuk menghasilkan tenaga kerja digital yang kompeten. Masyarakat juga membutuhkan pendampingan, pengalaman praktik, kesempatan berkolaborasi, dan pemahaman mengenai kebutuhan pasar.
Wali Kota Banda Aceh mengatakan anak muda dapat memulai dengan mempelajari keterampilan yang sesuai minat, kemudian menerapkannya melalui proyek sederhana. Portofolio yang berisi hasil karya nyata dapat menjadi modal untuk mencari pekerjaan, memperoleh klien, atau mengembangkan usaha sendiri.
“Pelatihan yang relevan juga dapat membantu UMKM memanfaatkan teknologi secara lebih efektif. Talenta digital lokal berpeluang menyediakan jasa pembuatan konten, pengelolaan media sosial, desain identitas usaha, pengembangan situs, dan solusi digital lainnya,” ungkapnya.
Konektivitas yang tersedia di kota turut mendukung proses tersebut. Akses internet memungkinkan peserta pelatihan mengikuti kelas daring, menggunakan perangkat pengembangan, bekerja dalam tim jarak jauh, serta mengakses komunitas profesional di berbagai wilayah.
Meski demikian, keberhasilan pengembangan talenta digital perlu dinilai melalui hasil yang nyata. Jumlah peserta pelatihan, keterampilan yang dikuasai, proyek yang dihasilkan, peluang kerja, serta usaha rintisan yang berkembang dapat menjadi indikator evaluasi.
Literasi digital dan keamanan siber juga perlu menjadi bagian dari setiap program. “Kemampuan menggunakan teknologi harus diiringi pemahaman tentang perlindungan data, etika digital, hak cipta, serta penggunaan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab,” jelasnya.
Dengan menghubungkan infrastruktur internet, pendidikan, komunitas, dan dunia usaha, Banda Aceh berpeluang membangun ekosistem digital yang memberi manfaat ekonomi. Tantangan berikutnya adalah memastikan ruang kolaborasi dan program pengembangan talenta berjalan berkelanjutan serta dapat diakses oleh masyarakat yang membutuhkan.(*)
Editor: RedaksiReporter: Ratish











