BANDA ACEH – Aroma khas minyak nilam Aceh selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan yang memiliki pasar hingga mancanegara. Namun, potensi ekonominya tidak harus berhenti pada penjualan bahan baku. Di balik komoditas tersebut, terbuka peluang besar untuk membangun industri parfum dan produk turunan yang memberikan nilai tambah lebih tinggi bagi perekonomian daerah.
Peluang itulah yang ingin dikembangkan Pemerintah Kota Banda Aceh melalui kerja sama dengan Koperasi Produsen Himpunan Keluarga Makmurkan Aceh (HIKMAH). Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun ekosistem hilirisasi industri nilam yang tidak hanya berorientasi pada investasi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama antara Pemko Banda Aceh dan Koperasi HIKMAH di Ruang Balai Senat Lantai II Biro Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), pada Jumat (14/8/2026) lalu.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan kerja sama tersebut bukan sekadar penandatanganan dokumen, melainkan bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi daerah dengan mengoptimalkan potensi komoditas unggulan Aceh.
Bagi Banda Aceh, pengembangan nilam menjadi industri bernilai tambah membuka peluang baru. Komoditas yang selama ini dikenal melalui minyak atsirinya dapat dikembangkan lebih jauh menjadi bahan baku parfum, produk perawatan tubuh, hingga berbagai produk turunan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Untuk mewujudkan peluang tersebut, diperlukan kerja sama berbagai pihak. Perguruan tinggi berperan dalam pengembangan pengetahuan, riset, dan inovasi, sementara koperasi menjadi wadah untuk menghubungkan kegiatan ekonomi dengan pemberdayaan masyarakat.
Kolaborasi itu turut melibatkan Universitas Syiah Kuala dan Koperasi HIKMAH. Hadir dalam kegiatan tersebut Rektor USK Prof. Mirza Tabrani, Wakil Rektor UINSU Prof. Dr. H. Muzakkir, M.Ag., serta Ketua Koperasi HIKMAH Dr. Ir. Surya Darma, MBA.
Pengembangan hilirisasi nilam juga membuka ruang bagi masuknya investasi pada berbagai tahapan industri, mulai dari pengolahan minyak atsiri, formulasi parfum, pengemasan, hingga pemasaran. Rantai kegiatan tersebut berpotensi melibatkan pelaku usaha lokal, tenaga terampil, dan generasi muda.
Selama ini, kekuatan sebuah komoditas tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bahan baku, tetapi juga kemampuan mengolahnya menjadi produk akhir yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Karena itu, hilirisasi menjadi langkah penting agar manfaat ekonomi komoditas unggulan dapat dirasakan lebih luas.
Pemko Banda Aceh berharap kesepakatan bersama tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi kegiatan ekonomi produktif yang melibatkan masyarakat. Dengan dukungan pengetahuan, kelembagaan koperasi, dan investasi, potensi nilam diharapkan dapat berkembang menjadi industri yang berkelanjutan.
Jika peluang ini dikelola secara konsisten, Banda Aceh tidak hanya berpotensi menjadi bagian dari rantai perdagangan minyak nilam, tetapi juga memiliki kesempatan membangun identitas ekonomi kreatif melalui industri parfum. Dari komoditas unggulan Aceh, terbuka jalan menuju produk bernilai tambah sekaligus peluang kerja baru bagi masyarakat.[]
Editor: RedaksiReporter: Ratish











