BANDA ACEH – Pemerintah Kota Banda Aceh terus membuka ruang bagi investasi swasta untuk mendukung pembangunan dan menjawab kebutuhan perkotaan. Kali ini, dua sektor strategis menjadi sasaran penjajakan investasi, yakni pengembangan perhotelan dengan konsep ramah lingkungan dan modernisasi pengelolaan sampah.
Peluang investasi tersebut dibahas dalam berbagai pertemuan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, termasuk bersama perwakilan PT APCA Tirta Engineering beberapa waktu lalu di Banda Aceh. Pertemuan itu menjadi langkah awal untuk menjajaki potensi kerja sama yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi pembangunan kota.
Ada dua rencana investasi yang ditawarkan perusahaan tersebut saat itu. Pertama, pembangunan The New Hotel Aceh dengan konsep green building dan green energy di kawasan depan Masjid Raya Baiturrahman. Kedua, pengembangan sistem pengelolaan sampah atau waste management untuk mendukung penanganan persampahan di Banda Aceh.
Illiza menyambut positif penjajakan tersebut dan berharap kehadiran investasi swasta dapat membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi daerah. “Kita berharap investasi ini dapat memberikan dampak terhadap peningkatan investasi dan pertumbuhan perekonomian di Kota Banda Aceh,” ujar Illiza, dikutip pada Senin (2/11/2026).
Menurutnya, investasi pada sektor perhotelan berpotensi mendukung pengembangan pariwisata dan meningkatkan daya tarik Banda Aceh sebagai destinasi kunjungan. Sementara itu, investasi pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan sistem pelayanan perkotaan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Meski menyambut baik tawaran tersebut, Illiza menegaskan bahwa setiap rencana investasi perlu melalui pembahasan dan kajian yang matang. Pemerintah ingin memastikan seluruh rencana memiliki kelayakan teknis, memberikan manfaat ekonomi, serta sesuai dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Karena itu, pihak perusahaan diminta menyampaikan proposal secara terperinci. Dokumen tersebut harus memuat aspek teknis, teknologi yang digunakan, kebutuhan lahan, kapasitas pengolahan, skema pembiayaan, analisis keekonomian, manfaat bagi daerah, hingga pola kerja sama yang ditawarkan.
Dalam pembahasan pembangunan hotel, salah satu gagasan yang turut mengemuka adalah penyediaan akses penghubung langsung menuju Masjid Raya Baiturrahman melalui jalur bawah tanah atau underground. Konsep ini diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi tamu hotel yang ingin menuju masjid tanpa harus melintasi jalan umum.
Sementara untuk sektor persampahan, pemerintah berharap rencana investasi tersebut dapat menawarkan solusi pengelolaan yang lebih efektif. Kejelasan teknologi, kapasitas pengolahan, serta mekanisme operasional menjadi aspek penting untuk memastikan sistem yang ditawarkan mampu menjawab kebutuhan kota.
Penjajakan dua sektor tersebut menunjukkan terbukanya peluang bagi dunia usaha untuk berkontribusi dalam pembangunan Banda Aceh. Pemerintah tidak hanya mendorong investasi yang berorientasi pada keuntungan bisnis, tetapi juga mengharapkan adanya manfaat nyata bagi masyarakat dan kualitas pelayanan perkotaan.
Melalui koordinasi antara wali kota, perangkat daerah teknis, dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Pemko Banda Aceh akan mendorong agar rencana tersebut ditindaklanjuti melalui proses kajian yang profesional dan terukur.
Pemko Banda Aceh optimistis kolaborasi dengan sektor swasta dapat membuka peluang pembangunan di berbagai bidang. Dengan perencanaan yang matang dan kerja sama yang tepat, investasi perhotelan dan pengelolaan sampah diharapkan menjadi bagian dari upaya mewujudkan Banda Aceh yang semakin maju, nyaman, dan berkelanjutan.[]
Editor: RedaksiReporter: Ratish











