Home / Pemerintah Aceh

Jumat, 25 September 2026 - 23:23 WIB

Persoalan Hak Ulayat dan Tapal Batas Adat Aceh Tengah Dibahas Bersama Wali Nanggroe

mm Redaksi

Lembaga Wali Nanggroe Aceh menerima aspirasi Forum Reje dan perwakilan masyarakat adat Kabupaten Aceh Tengah terkait persoalan tanah adat, hutan adat, hak ulayat dan tapal batas wilayah adat di Banda Aceh, Kamis (17/9/2026). Foto: Dok. Istimewa

Lembaga Wali Nanggroe Aceh menerima aspirasi Forum Reje dan perwakilan masyarakat adat Kabupaten Aceh Tengah terkait persoalan tanah adat, hutan adat, hak ulayat dan tapal batas wilayah adat di Banda Aceh, Kamis (17/9/2026). Foto: Dok. Istimewa

Banda Aceh — Forum Reje bersama perwakilan masyarakat adat Kabupaten Aceh Tengah menyampaikan sejumlah aspirasi terkait persoalan pertanahan kepada Lembaga Wali Nanggroe Aceh. Aspirasi tersebut mencakup persoalan tanah adat, hutan adat, hak ulayat, kewenangan masyarakat adat dalam pengelolaan hutan, hingga penataan tapal batas wilayah adat.

Aspirasi itu disampaikan dalam pertemuan dengan Lembaga Wali Nanggroe di Banda Aceh.

“Pertemuan ini menjadi ruang dialog bagi para reje dan perwakilan masyarakat adat untuk menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat di sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tengah,” kata Kabag Humas dan Kerjasama Wali Nanggroe Zulfikar Idris usai pertemuan, Kamis 17 September 2026.

Dari Lembaga Wali Nanggroe, pertemuan tersebut dihadiri Anggota Majelis Tuha Peut Prof. Dr. Syahrizal Abbas, MA, Staf Khusus Dr. M. Raviq dan Prof. Dr. Rustam Effendi, SE., M.Econ., serta Khatibul Wali Abdullah Hasbullah.

Sementara dari Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) dan Forum Reje Kabupaten Aceh Tengah hadir Abdul Wahid selaku Ketua Forum Reje/APDESI Kabupaten Aceh Tengah, Bukhari mewakili forum Kecamatan Rusip Antara, Hasan Basri mewakili forum Kecamatan Silih Nara, Wahyu Putra mewakili forum Kecamatan Linge, Ridwansyah mewakili forum Kecamatan Bintang, serta Armaja mewakili forum Kecamatan Ketol.

Baca Juga :  Bang Jack Libya Minta Publik Tak Besarkan Isu Ketua DPRA dan Sekda Aceh

Ketua Forum Reje/APDESI Kabupaten Aceh Tengah, Abdul Wahid, mengatakan persoalan tanah adat dan hutan adat bukan merupakan persoalan baru. Menurutnya, berbagai persoalan tersebut telah berlangsung cukup lama sehingga membutuhkan penyelesaian yang lebih konkret melalui keterlibatan berbagai pihak.

Ia mengapresiasi Lembaga Wali Nanggroe yang telah menerima dan mendengarkan secara langsung aspirasi yang disampaikan Forum Reje dan perwakilan masyarakat Aceh Tengah.

Abdul Wahid berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada penyampaian aspirasi. “Ini menjadi langkah awal untuk mendorong penyelesaian terhadap persoalan tanah, hutan dan hak-hak masyarakat adat di Aceh Tengah,” kata Abdul.

Anggota Majelis Tuha Peut Lembaga Wali Nanggroe, Prof. Dr. Syahrizal Abbas, MA, menyampaikan apresiasi kepada APDESI Kabupaten Aceh Tengah, Forum Reje, Forum Mukim, serta para pihak yang datang dan menyampaikan aspirasi secara langsung.

Baca Juga :  Mualem Takziah ke Rumah Duka Alm. Tgk H.Nuruddin Bin Tgk H.Hasan (Ayah Haji Keutapang-Nisam) 

Menurut Prof. Syahrizal, sejumlah persoalan yang telah dibahas berkaitan erat dengan keberadaan dan kewenangan masyarakat adat, terutama menyangkut hak ulayat, tanah adat, kewenangan masyarakat adat dalam mengelola hutan, serta tapal batas wilayah adat.

“Pada prinsipnya, persoalan ini adalah persoalan kita bersama. Lembaga Wali Nanggroe akan melakukan kajian dan mengambil langkah melalui komunikasi dengan pemerintah pusat maupun pemegang otoritas di tingkat Pemerintah Aceh, kabupaten, dan nasional,” jelas Prof. Syahrizal.

Ia menegaskan, Lembaga Wali Nanggroe merupakan payung bagi seluruh masyarakat Aceh. Karena itu, berbagai persoalan yang berkaitan dengan masyarakat adat dapat disampaikan kepada Lembaga Wali Nanggroe untuk dibahas serta dicarikan jalan penyelesaiannya.

Dalam proses penyelesaian tersebut, Lembaga Wali Nanggroe juga menekankan pentingnya seluruh pihak menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Kondisi yang aman dan kondusif dinilai penting agar setiap persoalan dapat diselesaikan melalui musyawarah dan mekanisme kelembagaan.

Forum Reje dan Forum Mukim di Kabupaten Aceh Tengah juga didorong untuk melakukan musyawarah serta penataan wilayah mukim. Langkah tersebut diperlukan untuk memperjelas wilayah adat sekaligus hak-hak masyarakat adat yang berada di dalamnya.

Baca Juga :  Bupati Aceh Besar Hadiri Pelantikan Wali Kota Sabang

Selanjutnya, koordinasi akan dilakukan dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Tengah dan DPRK Aceh Tengah. Berbagai dokumen yang berkaitan dengan wilayah dan hak masyarakat adat juga akan dihimpun sebagai bagian dari bahan kajian dan tindak lanjut.

Seluruh dokumen serta hasil koordinasi tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe untuk mendapatkan perhatian dan tindak lanjut.

Dalam pertemuan tersebut, Prof. Syahrizal turut menyinggung aspek sejarah kawasan Aceh Tengah, khususnya keberadaan Kerajaan Linge, sebagai bagian dari sejarah panjang pemerintahan dan wilayah adat di Aceh.

Aspek historis penting menjadi salah satu bagian yang diperhatikan dalam menelaah keberadaan wilayah serta hak masyarakat adat di Aceh Tengah.

“Jauh sebelum Republik hadir, kerajaan itu sudah ada, wilayah itu sudah ada, tanah dan hutan itu sudah ada. Kita kembalikan lagi kepada pemilik yang sesungguhnya, yaitu masyarakat,” ujar Prof. Syahrizal.[]

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Pemerintah Aceh

Wagub Aceh Tinjau Jalan IJD PUPR di Kembang Tanjong, Dorong Penyempurnaan Infrastruktur

Pemerintah Aceh

Marlina Harap Kemendikdasmen Bantu Tingkatkan Kualitas PAUD Aceh 

Pemerintah Aceh

Wagub Aceh Dorong PT POS Dukung Program KDMP dan Dapur MBG

Daerah

Pemerintah Aceh Potong Anggaran SKPA untuk Percepatan Penanganan Banjir Hidrometeorologi

Pemerintah Aceh

Wagub Aceh Terima Audiensi MPU, Bahas Keseragaman Penerapan Hukum Mawaris

Pemerintah Aceh

Pemerintah Aceh Pastikan PBM Semester Genap 2025/2026 Tetap Dimulai 5 Januari Meski Dilanda Bencana

News

Gubernur Aceh Sambut Kedatangan Menteri Kehutanan dan Rombongan Komisi IV DPR RI

Pemerintah Aceh

Dugaan Fee Program Revitalisasi Sekolah di Bireuen, SAPA Minta Dinas Pendidikan Aceh Bertindak Tegas