Banda Aceh – Rendahnya kesadaran masyarakat dalam pencegahan kebakaran masih menjadi persoalan utama di Kota Banda Aceh. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) setempat mencatat, mayoritas kasus kebakaran dipicu oleh faktor kelistrikan, yang sebenarnya dapat diantisipasi sejak dini melalui edukasi dan kesiapsiagaan.
Sejak Januari hingga Maret 2026 DPKP mencata terdapat 16 kejadian kebakaran mulai dari Rumah, Sekolah/dayah hingga pertokoan.
Inspektur Muda Kebakaran DPKP Kota Banda Aceh, Yudi, SH, mengungkapkan bahwa lebih dari 70 persen kejadian kebakaran diduga disebabkan oleh korsleting listrik. Namun, penetapan penyebab tersebut tetap harus melalui proses verifikasi.
“Faktor terbesar memang korslet listrik, tapi kami tidak bisa langsung menyimpulkan tanpa validasi. Penentuan resmi tetap dari tim inafis,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, dalam banyak kasus, titik awal api sulit dipastikan, terutama jika kebakaran terjadi saat penghuni rumah tidak berada di lokasi. Api yang sudah menjalar hingga ke plafon biasanya akan dengan cepat menghanguskan seluruh ruangan, sehingga jejak awal kebakaran sulit ditelusuri.
Ia menjelaskan, salah satu pemicu korsleting yang sering terjadi adalah tidak berfungsinya Miniature Circuit Breaker (MCB) secara optimal. Padahal, perangkat tersebut seharusnya mampu memutus aliran listrik saat terjadi gangguan.
“Kalau korslet, seharusnya MCB itu putus. Tapi yang sering terjadi, tidak berfungsi dengan baik,” katanya.
Di sisi lain, ia menilai kesadaran masyarakat dalam upaya pencegahan masih tergolong rendah. Banyak warga maupun pelaku usaha yang belum menganggap penting keberadaan alat proteksi kebakaran.
“Padahal kami terus lakukan edukasi. Setiap rumah dan tempat usaha sangat dianjurkan memiliki alat proteksi seperti APAR dan sistem alarm,” tegasnya.
Alat deteksi dini seperti fire alarm system dinilai penting untuk memberikan peringatan saat terjadi potensi kebakaran. Dengan adanya sistem tersebut, respons awal dapat dilakukan lebih cepat sebelum api membesar.
Selain itu, Yudi juga menyoroti pentingnya peran dunia usaha dalam mitigasi kebakaran. Ia menyarankan setiap pelaku usaha minimal memiliki dua hingga tiga unit alat pemadam api ringan (APAR) dengan kapasitas memadai.
“Kesadaran pemilik usaha masih kurang. Banyak yang menganggap remeh sampai kejadian benar-benar terjadi,” ujarnya.
Ia menegaskan, penanganan kebakaran tidak hanya menjadi tanggung jawab pemadam kebakaran, melainkan melibatkan tiga pilar utama, yaitu masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah dalam hal ini damkar.
“Kalau tiga unsur ini tidak bekerja sama, dampak kebakaran pasti lebih besar. Saat pemadam sudah turun, biasanya kerusakan sudah mencapai 80 persen,” katanya.
Karena itu, edukasi terus dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sejak dini. Mulai dari penggunaan alat proteksi hingga kebiasaan sederhana dalam penggunaan listrik di rumah.
Yudi menyebut, kebakaran di rumah umumnya terjadi di area dapur dan ruang tengah. Sementara kasus kebakaran yang berasal dari kamar relatif lebih sedikit, namun tetap perlu diwaspadai.
Penyebab lainnya yang mulai meningkat adalah kebiasaan mengisi daya perangkat elektronik, khususnya ponsel, dalam waktu lama tanpa pengawasan.
“Banyak kasus karena ngecas HP terlalu lama. Dibiarkan dari malam sampai pagi. Ini berisiko,” ujarnya.
Ia menjelaskan, baterai lithium yang digunakan pada ponsel memiliki batas ketahanan tertentu. Jika terus dialiri listrik setelah penuh, potensi panas berlebih dapat memicu kebakaran atau bahkan ledakan.
“Baterai lithium itu rentan. Kalau terjadi kerusakan, bisa mengeluarkan asap tebal hingga beberapa menit,” katanya.
Fenomena serupa juga mulai terlihat pada kendaraan listrik yang diisi daya terlalu lama, terutama dalam kondisi panas atau sistem pendingin yang tidak optimal.
Melalui berbagai temuan tersebut, Yudi menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam penggunaan listrik sehari-hari. Ia mengimbau agar kebiasaan sederhana seperti mencabut charger setelah penuh menjadi perhatian serius.
“Edukasi ini penting. Jangan tunggu kejadian baru sadar. Kebakaran bisa dicegah dari hal-hal kecil,” pungkasnya.
Editor: Dahlan










