Home / Pemerintah Aceh

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:21 WIB

Pemerintah Aceh Sambut Program Partisipasi untuk Perkuat Demokrasi

mm Redaksi

Pj. Sekda Aceh, Taufik, ST, M.Si, saat menyampaikan sambutan pada Sosialisasi dan Peluncuran Awal Program Partisipasi (Indonesia Democratic Participation) di Gedung Serba Guna Setda Aceh, Banda Aceh, Jum'at, (30/10/2026). Foto: Dok. Biro Adpim Setda Aceh

Pj. Sekda Aceh, Taufik, ST, M.Si, saat menyampaikan sambutan pada Sosialisasi dan Peluncuran Awal Program Partisipasi (Indonesia Democratic Participation) di Gedung Serba Guna Setda Aceh, Banda Aceh, Jum'at, (30/10/2026). Foto: Dok. Biro Adpim Setda Aceh

Banda Aceh – Pemerintah Australia bersama The Asia Foundation dan Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh meluncurkan sosialisasi awal Program Partisipasi (The Indonesia Democratic Participation) di Gedung Serbaguna Kantor Gubernur Aceh, Jumat (30/10/2026).

Program kerja sama pembangunan Australia-Indonesia tersebut bertujuan memperkuat kualitas demokrasi melalui peningkatan partisipasi masyarakat, penguatan institusi pemerintah dan masyarakat sipil, serta pembangunan ruang kolaborasi dalam proses pengambilan kebijakan.

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Taufik, menyampaikan apresiasi kepada The Asia Foundation, GeRAK Aceh, dan Pemerintah Australia melalui Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) yang telah memilih Aceh sebagai salah satu wilayah pelaksanaan program tersebut.

“Atas nama Pemerintah Aceh, kami menyambut baik inisiatif ini sebagai ikhtiar bersama untuk memperkuat kualitas demokrasi dan membangun kemitraan yang konstruktif antara pemerintah dan masyarakat sipil,” kata Taufik.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar kebijakan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi warga.

Baca Juga :  ‎Mualem Gelar Silaturahmi Bersama Ulama, Perkuat Sinergi Umara dan Ulama untuk Aceh Islami

Ia menilai partisipasi publik yang bermakna menjadi bagian penting dalam proses perumusan kebijakan. Masyarakat, termasuk kelompok rentan, harus diberikan ruang untuk menyampaikan gagasan, aspirasi, dan kebutuhan mereka.

“Dengan demikian, kebijakan yang dihasilkan akan semakin inklusif, responsif, dan akuntabel, sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan,” ujarnya.

Taufik juga berharap seluruh jajaran Pemerintah Aceh mendukung pelaksanaan program melalui koordinasi dan kerja sama sesuai tugas masing-masing. Kemitraan dengan organisasi masyarakat sipil, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya juga perlu terus dibangun secara terbuka dan konstruktif.

Sementara itu, Counsellor Political Kedutaan Besar Australia, Robert Sutton, menjelaskan bahwa Program Partisipasi merupakan bagian dari kerja sama pembangunan Australia-Indonesia yang berfokus pada penguatan demokrasi substantif.

Baca Juga :  BPBJ Aceh Matangkan Sosialisasi SE Gubernur soal Kompetensi KPA

Program tersebut berlangsung sejak pertengahan 2026 hingga pertengahan 2030 dengan nilai pendanaan mencapai 30 juta dolar Australia atau AUD 30 juta.

Robert menyebutkan, program ini melanjutkan pembelajaran dari Program Percontohan Ketahanan Demokrasi (Democratic Resilience/DemRes) yang telah dilaksanakan pada 2021–2026.

Ada tiga capaian utama yang ingin diwujudkan melalui Program Partisipasi, yakni penguatan institusi, penguatan masyarakat sipil, serta pengembangan kegiatan demokrasi yang kolaboratif.

Pelaksanaannya mencakup lima area fokus, yaitu pemilu berintegritas, keterlibatan parlemen, partisipasi dan pendidikan warga negara, penguatan media independen dan berkualitas, serta upaya melawan misinformasi dan disinformasi.

Robert menambahkan, kesetaraan gender, kesetaraan disabilitas, dan inklusi sosial menjadi prinsip utama yang diintegrasikan dalam seluruh kegiatan program.

Secara nasional, Program Partisipasi dilaksanakan di tiga daerah sasaran, yakni Yogyakarta, Makassar, dan Aceh, selain kegiatan di tingkat nasional.

Baca Juga :  Terminal Aceh Tamiang Direhabilitasi, Fasilitas Loket hingga Ruang Tunggu Ditambah

Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil, media, dan kalangan akademisi melalui dua komponen utama, yaitu kemitraan antarlembaga negara dan kemitraan masyarakat sipil.

Pada komponen masyarakat sipil, Kedutaan Besar Australia menyalurkan hibah melalui The Asia Foundation sebagai pengelola program (convenor). Pendanaan tersebut selanjutnya diberikan kepada organisasi mitra untuk menjalankan kegiatan sesuai lima area fokus yang telah ditetapkan.

Lima mitra utama program ini adalah Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Center for Strategic and International Studies (CSIS), International Foundation for Electoral Systems (IFES), Kemitraan, dan Westminster Foundation for Democracy (WFD).

Melalui kolaborasi tersebut, Program Partisipasi diharapkan dapat memperluas keterlibatan masyarakat dalam proses demokrasi sekaligus memperkuat hubungan antara institusi negara dan masyarakat sipil dalam mendorong tata kelola pemerintahan yang lebih inklusif dan akuntabel.[]

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Mualem

Pemerintah Aceh

Mualem dan Mendag Bahas Penguatan Ekonomi Aceh

Pemerintah Aceh

Wagub Fadhlullah Tanggapi Aksi Unjuk Rasa Nakes RSUDZA: Semua Tuntutan Akan Diproses Sesuai Regulasi

Pemerintah Aceh

Perkuat Regulasi Pendidikan Islam, Dinas Dayah Aceh Dorong Qanun Dayah Pidie Jaya Lebih Komprehensif

Pemerintah Aceh

Program MBG Berpotensi Putar Rp7 Triliun, Sekda Aceh Minta Bahan Baku Dibeli dari Daerah

Nasional

Mualem Gerak Cepat

Daerah

HIPMI, Kadin, dan IWAPI Kolaborasi Dukung Pemulihan Aceh: Sekda M. Nasir Paparkan Kondisi Terbaru Bencana

Pemerintah Aceh

BPK RI Serahkan LHP Kinerja dan Kepatuhan, Pemerintah Aceh Tekankan Akuntabilitas dan Good Governance

Pemerintah Aceh

Biro PBJ Setda Aceh Salurkan Donasi Rp12,3 Juta untuk Korban Gempa NTT