Home / Nasional

Senin, 15 September 2025 - 07:30 WIB

Menag Ajak Santri Hidupkan Kembali Semangat Ulama Klasik

mm Redaksi

Menag, Nasaruddin Umar menyampaikan Kuliah Umum. dok. Kemenag RI

Menag, Nasaruddin Umar menyampaikan Kuliah Umum. dok. Kemenag RI

Ponorogo – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak para santri untuk meneladani semangat ulama-ulama klasik yang mampu melahirkan karya besar sekaligus membangun peradaban. Menurutnya, pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi episentrum peradaban Islam dunia bila santri mampu menghidupkan kembali tradisi keilmuan para pendahulu.

Pesan ini ia sampaikan dalam kuliah umum bertema “Gerakan Pesantren Berbasis Cinta” di Auditorium Pondok Pesantren Walisongo (PPWS) Ngabar, Ponorogo, Minggu (14/9/2025). Acara tersebut diikuti tenaga pendidik, santri, serta tokoh masyarakat.

Dalam paparannya, Menag menegaskan bahwa pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga lembaga yang berkontribusi besar bagi pembangunan bangsa. “Tradisi pesantren kita kaya dengan warisan intelektual. Dari sinilah lahir ulama, pemikir, sekaligus pemimpin umat. Pesantren harus tampil sebagai pusat lahirnya generasi yang mampu berperan dalam percaturan global,” ujarnya.

Baca Juga :  AICIS+ 2025 Umumkan 234 Abstrak Terpilih dari 2.434 Pengajuan

Bahkan, Menag menyinggung kisah para ulama klasik sebagai teladan bagi santri. Ia mencontohkan Imam Al-Ghazali yang menulis Ihya Ulumuddin untuk menghidupkan spiritualitas umat, serta Ibn Rushd yang mampu menjembatani ilmu agama dengan filsafat sehingga menjadi rujukan dunia Barat. “Mereka adalah contoh bagaimana seorang ulama tidak hanya menguasai teks agama, tetapi juga ilmu pengetahuan luas yang membangun peradaban,” jelasnya.

Baca Juga :  Menteri Kabinet Merah Putih Ikut Berlari di Merdeka Run 8.0K, Ribuan Peserta Padati Istana Merdeka

Ia juga mengisahkan Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang menekankan pentingnya kejujuran dalam menuntut ilmu. “Syekh Abdul Qadir pernah dinasehati oleh ibunya: jangan bohong, maka selamat. Pesan inilah yang relevan bagi santri zaman sekarang, bahwa ilmu tanpa kejujuran akan kehilangan berkah,” imbuhnya.

Selain itu, Menag menegaskan pendidikan pesantren harus senantiasa berlandaskan kesungguhan, doa, dan keikhlasan. “Ilmu yang berkah lahir dari hati yang jujur, tekun, dan doa yang tulus. Inilah ciri khas pendidikan pesantren yang harus terus dirawat,” terangnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keterhubungan antara ilmu agama dan ilmu umum. Menurutnya, kejayaan peradaban Islam di Baghdad menjadi bukti nyata bagaimana ulama, ilmuwan, dan filosof bersinergi membangun dunia. “Tidak boleh ada pemisahan ilmu. Santri harus menguasai kitab, sekaligus terbuka pada sains dan teknologi modern. Dengan begitu, pesantren akan melahirkan generasi alim, cerdas, dan siap memimpin,” tegasnya.

Baca Juga :  Ketum PWI Pusat Hendry Ch Bangun Apresiasi Program Rumah Subsidi untuk Wartawan

Kuliah umum ini turut dihadiri Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Bupati Ponorogo, Rektor UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Kepala Kankemenag se-Karisidenan Madiun, Ketua MUI Ponorogo, serta para rektor perguruan tinggi.***

Editor: RedaksiReporter: Redaksi

Share :

Baca Juga

Nasional

LPMQ Sediakan Master Mushaf Al-Qur’an Isyarat 30 Juz Gratis untuk Penyandang Tuli

Ekbis

Transaksi Digital Naik 24 Persen, BSI Siapkan Likuiditas Rp45 Triliun Sambut Idul Fitri 2026

Nasional

Akses Jalan Nasional Pulih, Jembatan Bailey Jadi Solusi Darurat Pascabanjir di Aceh

Nasional

Rakernas APEKSI XVIII Libatkan 375 UMKM, Medan Perkuat Investasi dan Kolaborasi Antarkota

Nasional

Menag Lantik 89 Dewan Hakim MQKI 2025, Hadir Hakim Internasional dari Brunei

Nasional

Menpora Dito Lepas Delegasi Indonesia ke Y20 Summit di Afrika Selatan

Nasional

Kemenag Apresiasi Program Pangan dan Wakaf ICMI, Sebut Indramayu Berpotensi Jadi Kota Wakaf

Nasional

Peringatan Maulid Nabi, Menag Serukan Persatuan dan Perdamaian di Tanah Air