Home / Daerah

Sabtu, 27 September 2025 - 10:30 WIB

APRI Aceh Selatan Dukung Gubernur Mualem Tertibkan Tambang Ilegal, Desak Percepatan WPR

mm Redaksi

Pembina Dewan Pengurus Cabang Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (DPC APRI) Aceh Selatan, Hanzirwansyah ST. dok. Ist

Pembina Dewan Pengurus Cabang Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (DPC APRI) Aceh Selatan, Hanzirwansyah ST. dok. Ist

Aceh Selatan – Pembina Dewan Pengurus Cabang Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (DPC APRI) Aceh Selatan, Hanzirwansyah ST, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) yang berkomitmen menertibkan tambang ilegal di seluruh Aceh.

“Penertiban tambang ilegal yang digagas Gubernur Aceh adalah langkah berani dan strategis. Tetapi jangan berhenti di situ. Legalisasi melalui penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) harus segera dipercepat setelah qanun pertambangan rakyat disahkan,” tegas Hanzirwansyah yang akrab disapa Bang Iwan, Jumat (26/9/2025).

Ia menegaskan, kebijakan ini bukan sekadar penegakan hukum, melainkan pintu masuk untuk menata kembali sektor pertambangan yang selama ini menjadi sarang praktik gelap.

Baca Juga :  Syeh Muharram: Aceh Besar Wajib Maju, Saatnya Keluar dari Keterpurukan

Menurutnya, pihak APRI Aceh Selatan telah berkoordinasi dengan Bupati Aceh Selatan terkait usulan WPR. “Insya Allah akan ditindaklanjuti, karena fasilitasi perizinan pertambangan rakyat sangat sesuai dengan visi dan misi Pemkab Aceh Selatan periode 2025-2030,” tambahnya.

Bang Iwan juga menyoroti kerugian besar negara akibat tambang ilegal. DPR Aceh mengungkap, ekskavator yang beroperasi di lokasi tambang ilegal menyetor sekitar Rp360 miliar per tahun kepada oknum aparat sebagai “uang keamanan”. Sementara itu, GeRAK Aceh mencatat kerugian akibat tambang emas ilegal pernah mencapai Rp500 miliar lebih per tahun, belum termasuk potensi kehilangan pajak daerah.

Baca Juga :  Imigrasi Sabang Jalin Kerja Sama dengan Media NOA untuk Perkuat Publikasi Pelayanan

“Ini kerugian nyata. PAD hilang, negara dirugikan, rakyat tidak mendapatkan apa-apa, sementara lingkungan kita rusak parah,” ujarnya.

Ia menilai percepatan penetapan WPR adalah solusi agar penambang rakyat bisa bekerja secara legal, ramah lingkungan, dan memberi kontribusi nyata bagi pendapatan daerah. “Sudah saatnya rakyat menjadi tuan di tanah sendiri, bukan sekadar penonton. Dengan WPR, ada kepastian hukum, ada PAD yang masuk, dan ada pengawasan lingkungan. Ini win-win solution bagi semua pihak,” tegas Bang Iwan yang juga Pembina Forum Jurnalis Independen Aceh Selatan (Forjias).

Baca Juga :  Wakil Bupati Aceh Besar Serahkan Bantuan Masa Panik untuk Korban Kebakar di Gampong Limpok

Menurutnya, langkah Gubernur Mualem menertibkan tambang ilegal hanya akan bermakna bila dibarengi percepatan pengesahan qanun dan penetapan WPR. “Ujian sesungguhnya bagi pemerintah Aceh adalah seberapa cepat regulasi ini diselesaikan. Kalau konsisten, tambang ilegal bisa dihentikan dan tambang rakyat menjadi lokomotif kesejahteraan masyarakat Aceh,” pungkasnya.***

Editor: RedaksiReporter: Redaksi

Share :

Baca Juga

Putra Aceh Yasir Habib

Daerah

Putra Aceh Yasir Habib Raih Jabatan Lurah di Jakarta

Daerah

Seragam Loreng Bersama Warga Tingginambut Bersatu Bersihkan Kampung

Daerah

Tim Ekspedisi Hari Bhayangkara Bentangkan Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Leuser
Jumat Berkah

Daerah

Kodam IM Bagikan 401 Paket Sarapan Gratis di Jumat Berkah

Aceh Besar

Wakili Bupati, Kadisdik Dayah Hadiri Penglepasan dan Wisuda Syahadah Al Quran 30 Juz ke-VII Ma’had Daarut Tahfiz Al-Ikhlas

Daerah

Polisi Temukan Bong Sabu dalam Mobil dan Amankan 5 Knalpot Brong Saat Razia di Ingin Jaya Aceh Besar

Daerah

Eks Kombatan GAM Dukung Sidak DPRK Bireuen ke Gudang BPBD, Soroti Dugaan Penimbunan Bantuan Banjir

Daerah

Operasi SAR Bencana Aceh Capai 80 Persen, 4.271 Warga Dievakuasi dan 62 Masih Hilang