Home / Nasional

Selasa, 15 Juli 2025 - 15:08 WIB

Menag: Alam Bukan Objek Eksploitasi, Tapi Mitra Kehidupan

mm Redaksi

Menag buka ICIEFE 2025. dok. Kemenag RI

Menag buka ICIEFE 2025. dok. Kemenag RI

Jakarta — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya menata ulang cara pandang umat terhadap alam semesta. Menurutnya, alam tidak boleh dipandang sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra dalam kehidupan.

Hal itu disampaikan Menag saat membuka International Conference on Islamic Ecotheology for the Future of the Earth (ICIEFE) 2025 dan Kick-Off for the Refinement of MoRA’s Qur’anic di Jakarta, Senin, 14 Juli 2025.

Dimana, konferensi ini merupakan bagian dari rangkaian Peaceful Muharam yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama.

“Kalau kita menganggap alam hanya sebagai objek, maka matilah rasa kita,” ujar Menag dalam sambutannya.

Baca Juga :  Penjualan Hewan Kurban Tahun 2025 Turun?

Ia menyebut konsep ekoteologi sebagai pendekatan spiritual Islam yang relevan untuk merespons krisis lingkungan. Menurutnya, manusia perlu membangun hubungan emosional dan spiritual dengan alam, bukan hanya memahami dengan logika semata.

Menag juga mendorong pemanfaatan “otak kanan” dalam memahami alam. Ia mencontohkan masyarakat ribuan tahun lalu yang mampu bertahan hidup tanpa teknologi modern berkat kedekatan dan persahabatan dengan alam. “Mereka tidak membutuhkan laboratorium dan teknologi canggih, tetapi bisa bertahan hidup karena persahabatannya dengan alam,” katanya.

Baca Juga :  Wamendagri dan Walikota Banda Aceh Kunjungi Landmark BSI Aceh dalam Rangka Semiloka "Road to Launching Banda Aceh Kota Parfum Indonesia

Pemahaman terhadap ekoteologi, lanjut Menag, juga tidak bisa dilepaskan dari kajian kosmologi. Ia merujuk pandangan sufi Ibnu Arabi yang menyatakan bahwa hanya Tuhan yang memiliki wujud sejati, sementara alam adalah bayangan dari-Nya.

“Kalau kita lihat tradisi Hindu di Bali, mereka sangat menghormati pohon-pohon besar. Sejak dulu mereka menganggap alam ini sebagai partner, bukan sekadar benda. Makanya, mereka tidak berani menebangnya karena menganggapnya bagian dari dirinya sendiri,” jelasnya.

Menag juga menyoroti perlunya perubahan teologi untuk mendorong perubahan perilaku terhadap alam. Menurutnya, teologi saat ini terlalu maskulin, padahal Tuhan juga sangat erat dengan sifat feminin yang penuh kasih sayang terhadap ciptaan-Nya.

Baca Juga :  Unhan Diresmikan, Kapolri dan Panglima TNI Nyanyi Bareng Lagu Rumah Kita

“Untuk itu, kita butuh kelembutan dalam memahami Tuhan dan alam,” ujarnya.

Konferensi internasional ini dihadiri oleh peserta dari unsur pemerintah, akademisi dalam dan luar negeri, masyarakat sipil, media, generasi muda dari pesantren, universitas, serta komunitas lingkungan. Hadir pula Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin, Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad, Kepala BMBPSDM, Dirjen Bimas Katolik, Dirjen Bimas Kristen, Dirjen Bimas Hindu, Kepala Kanwil Kemenag se-Indonesia, dan Tim Penyempurnaan Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama.***

Editor: RedaksiReporter: Redaksi

Share :

Baca Juga

Nasional

Menag Prihatin Pembubaran Ibadah Umat Kristen di Padang

Nasional

Rakornas Nasional di Bogor, Wali Kota Illiza Tegaskan Pentingnya Kepemimpinan Adil dan Jujur

Nasional

Tekanan Fiskal Menguat di Forum APEKSI 2026, Pemerintah Kota Diminta Perkuat Strategi Keuangan

Nasional

15 Pejabat Kemhan Dilantik, Donny Ermawan Taufanto Tegaskan Modernisasi Pertahanan

Nasional

Kapal Induk Amerika Serikat USS Nimitz Lintasi Selat Malaka, Ini Respons TNI

Nasional

Rakornas Baznas 2025, Menag: Potensi Zakat Bisa Capai Rp500 Triliun
Film Islami

Nasional

Tujuh Karya Film Islami Terbaik 2025 Diumumkan Kemenag

Nasional

KTT BRICS di Brazil: Prabowo Tekankan Peran RI dalam Global South