Home / News / Politik

Kamis, 19 Juni 2025 - 12:43 WIB

PSID Sebut SBY Konsisten Pilih Jalur Diplomasi dalam Menyikapi Konflik Dunia

mm Tika Fitri Lestari

Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

Jakarta –  Direktur Pusat Studi Islam dan Demokrasi (PSID), Nazar El Mahfudzi, menyebut tokoh-tokoh di Indonesia perlu didengarkan pandangannya terutama dalam menyikapi kondisi geopolitik global, terlebih mereka yang berkonflik seperti Israel-Iran.

Dia pun menyoroti pandangan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), terkait perang Israel-Iran, yang disebutnya penting untuk menjadi bahan pertimbangan agar masyarakat dapat melihat persoalan ini dengan jernih.

Menurut Nazar, pernyataan SBY dalam wawancara di media, ingin menyampaikan bahwa konflik ini sebaiknya tidak dilihat secara hitam-putih.

“Iran bukan semata-mata agresor, dan Israel bukan semata korban. Keduanya memiliki sejarah panjang-politik, agama, keamanan nasional-yang membentuk respons dan retorika mereka hari ini. Namun, seperti yang sering SBY tekankan, sejarah tidak boleh dijadikan justifikasi untuk kekerasan yang berulang,” kata Nazar dalam keterangannya, Rabu (18/6/2025).

Baca Juga :  Tukang Parkir di Samping Masjid Raya Diangkut Satgas Anti Premanisme Polresta Banda Aceh

Selain itu, menurutnya, SBY mengajak masyarakat Indonesia dan dunia untuk tak mudah percaya pada framing tunggal media internasional.

“Literasi media menjadi penting. Apakah media global menampilkan semua sisi cerita? Apakah suara warga sipil Iran dan Israel terdengar, atau hanya para jenderal dan presiden?,” ungkap Nazar.

Menurut dia, SBY memahami medan konflik, tapi juga memahami kekuatan diplomasi. Pandangannya menolak pendekatan unilateral. Di mana solusi jangka panjang hanya bisa lahir dari dialog multilateral yang adil, bukan dari embargo, sanksi sepihak, atau serangan balik tanpa ujung.

Baca Juga :  44 Pejabat Kemenag Se-Aceh Dilantik, Ini Pesan Kakanwil Azhari Saat Pelantikan

“SBY bahkan beberapa kali dalam masa jabatannya mendorong Indonesia untuk aktif dalam forum PBB dan OKI untuk menjadi penengah dalam konflik-konflik dunia Islam dan Barat. Dan hari ini, suaranya tetap konsisten: ‘jangan diam ketika kemanusiaan dilukai, tapi jangan membalas luka dengan peluru’,” ungkap dia.

Ajak Berpikir Jernih

Menurut Nazar, SBY ingin mengingatkan bahwa yang paling menderita dari konflik semacam ini bukanlah elit politik atau militer, melainkan rakyat biasa. Anak-anak, perempuan, dan warga sipil tak bersenjata menjadi korban perang yang tidak mereka pilih.

Baca Juga :  Nazaruddin Dek Gam Ditetapkan Sebagai Ketua DPW PAN Aceh

Menurutnya, pernyataan SBY menjadi pengingat bahwa konflik modern tak lagi hanya berlangsung di medan perang fisik, tapi juga di ruang media. “Narasi, disinformasi, dan polarisasi menjadi bagian dari strategi perang, dan kita semua, sebagai pembaca, harus punya nalar kritis untuk memilahnya,” jelas dia.

Nazar juga memandang, SBY tidak sekadar mengomentari konflik, tapi juga mengingatkan Indonesia, negeri dengan populasi Muslim terbesar dan tradisi diplomasi nonblok, untuk tak tinggal diam.

“Pandangan SBY mengajak publik untuk melihat lebih jernih, membaca lebih dalam, dan menolak menjadi bagian dari kebisingan propaganda global,” pungkasnya.

 

Editor: RedaksiSumber: https://liputan6.com

Share :

Baca Juga

Daerah

Muscab VI PPP Abdya, Konsolidasi Partai Hadapi Pemilu

Daerah

Polisi Temukan Bong Sabu dalam Mobil dan Amankan 5 Knalpot Brong Saat Razia di Ingin Jaya Aceh Besar

Parlementarial

DPRA Lantik Tiga Legislator Baru dari Partai Aceh, Termasuk Bunda Salma

Politik

MK Tolak Gugatan Uji Formil UU TNI, Pemohon Dinilai Tak Miliki Kedudukan Hukum

News

Kadisdik Aceh Tegaskan Pentingnya LKS yang Jujur dan Berkualitas

Nasional

Prabowo Resmikan Pembangkit Listrik EBT di 15 Provinsi Senilai Rp 25 T

Politik

Wamenhan Donny Hadiri Raker dengan Komisi I DPR, Bahas RKA Kemhan-TNI 2026

Daerah

Ketua TP PKK Aceh Lantik Pengurus Baru Langsa, Kader Diminta Aktif di Masyarakat