Pidie Jaya – Di tengah mahalnya biaya pendidikan,Tgk. H. Sibral Malasyi, M.Ali., S.Sos., M.E. memilih jalan yang berbeda. Harta yang diperoleh dari hasil usahanya tidak dinikmati untuk kemewahan, tetapi diwakafkan dalam bentuk karya nyata melalui Dayah Raudhatul Jannah Al-Malasyi Al-Munawarah di Gampong Meuko Baroh, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya.
Sejak direncanakan pada tahun 2000 dan mulai berkembang pada 2007, hampir seluruh perjalanan dayah dibangun dari biaya pribadi. Pembebasan lahan, pembangunan ruang belajar, asrama, mushalla, hingga sarana pendukung lainnya dibiayai dari hasil perusahaan yang dirintisnya. Tidak hanya membangun, beliau juga menjaga agar roda pendidikan terus berjalan dengan menanggung biaya operasional, termasuk kebutuhan hidup dan konsumsi (makan minum) santri digratiskan.
Komitmen itu melahirkan kebijakan yang jarang ditemui. Santri yang datang cukup membawa pakaian, sementara kebutuhan pendidikan dan kehidupan di dayah disiapkan sepenuhnya. Pada awalnya dayah memprioritaskan anak yatim dan dhuafa, namun kini seluruh santri memperoleh pendidikan gratis tanpa membedakan latar belakang ekonomi.
Di bawah kepemimpinan yang berkelanjutan, Dayah Raudhatul Jannah terus berkembang dengan memadukan pendidikan kitab kuning dan SPM Wustha serta SPM Ulya, yang kini membina sekitar 250 santri.
Apa yang dilakukan Tgk. H. Sibral Malasyi membuktikan bahwa kekayaan tidak hanya bernilai ketika disimpan, tetapi jauh lebih bermakna ketika diubah menjadi jalan lahirnya lembaga pendidikan, terbukanya akses belajar secara gratis, dan terciptanya generasi yang berilmu serta berakhlak. Itulah warisan terbesar yang akan terus hidup, jauh melampaui nilai materi yang pernah dimiliki.
Penulis: Dr. Tgk. Saiful Bahri, M.A
Pemerhati Pendidikan Dayah Aceh










