Banda Aceh – Kehadiran media sosial telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk cara masyarakat belajar bahasa asing. Saat ini, platform digital seperti YouTube, TikTok, Instagram, hingga podcast menjadi salah satu sarana yang banyak dimanfaatkan untuk mempelajari bahasa Inggris secara mandiri.
Kemudahan akses yang ditawarkan membuat media sosial menjadi alternatif pembelajaran yang praktis. Pengguna dapat mengakses berbagai materi kapan saja dan di mana saja tanpa harus mengikuti jadwal belajar tertentu seperti di lembaga pendidikan formal.
Sejumlah kalangan menilai media sosial mampu membantu meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, terutama dalam menambah kosakata dan memahami penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di sisi lain, media sosial juga dinilai memiliki keterbatasan, khususnya dalam memberikan pemahaman akademik yang terstruktur serta ketepatan tata bahasa.
Salah satu manfaat utama media sosial adalah kemampuannya menghadirkan konten berbahasa Inggris dalam aktivitas harian pengguna. Paparan bahasa yang terus-menerus memungkinkan seseorang mempelajari kosakata baru secara alami.
Sebagai contoh, pengguna yang sering mengakses konten kecantikan berbahasa Inggris akan lebih familiar dengan istilah seperti “flawless”, “hydrating”, dan “complexion”, yang kemudian dapat digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi sarana pembelajaran bahasa yang efektif secara informal.
Selain itu, fleksibilitas menjadi keunggulan lain yang dimiliki media sosial. Berbeda dengan proses belajar di ruang kelas yang membutuhkan waktu dan tempat tertentu, media sosial memungkinkan proses belajar berlangsung kapan saja.
Masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi tetap dapat meningkatkan kemampuan bahasa Inggris melalui video singkat maupun podcast selama perjalanan atau saat memiliki waktu luang. Fleksibilitas tersebut membuat proses belajar menjadi lebih mudah dijangkau oleh berbagai kalangan.
Meski demikian, penggunaan media sosial sebagai sumber belajar juga memiliki sejumlah risiko. Salah satunya adalah kemungkinan memperoleh informasi yang kurang akurat akibat memilih sumber pembelajaran yang tidak tepat.
Tidak sedikit pembelajar pemula yang menjadikan kreator konten sebagai sumber utama belajar bahasa Inggris. Apabila kreator tersebut menggunakan tata bahasa, pengucapan, atau kosakata yang kurang tepat, maka kesalahan tersebut berpotensi ditiru oleh para pengikutnya tanpa disadari.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan kesalahan pemahaman terhadap grammar, pelafalan, maupun makna kata yang sebenarnya. Karena itu, pengguna perlu lebih selektif dalam memilih platform dan sumber belajar yang kredibel.
Beberapa kanal pembelajaran bahasa Inggris yang dikenal luas dan sering direkomendasikan antara lain mmmEnglish dan English with Lucy yang menyediakan materi pembelajaran dengan penjelasan yang lebih sistematis dan mudah dipahami.
Secara keseluruhan, media sosial dapat menjadi sarana yang menarik untuk mengembangkan kemampuan bahasa Inggris, khususnya dalam memperkaya kosakata dan memahami penggunaan bahasa sehari-hari. Namun, pembelajaran formal tetap memiliki peran penting dalam membangun pemahaman akademik, struktur bahasa, serta ketepatan penggunaan grammar.
Dengan mengombinasikan media sosial dan pendidikan formal, proses belajar bahasa Inggris dapat berlangsung lebih efektif, seimbang, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajar di era digital.
Penulis: Tasya Nabilla, Arfi Haura Aqilla, Salsa Biela Rahmadhani, Fitriani Ananda
Sumber adaptasi dari artikel “Between Help and Harm: Social Media as an Informal Way for Language Development”.
Editor: Dahlan










