Home / Daerah

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:08 WIB

Laskar Panglima Nanggroe Sesalkan Penurunan Paksa Bendera Bulan Bintang Saat Maulid di Pidie, Minta Presiden Tuntaskan MoU Helsinki

mm Redaksi

Ketua Umum Laskar Panglima Nanggroe, Sulaiman Manaf. Foto: Dok. Istimewa

Ketua Umum Laskar Panglima Nanggroe, Sulaiman Manaf. Foto: Dok. Istimewa

Pidie – Laskar Panglima Nanggroe menyesalkan dugaan tindakan represif yang dilakukan oknum aparat TNI terhadap warga di Gampong Sagoe, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie.

Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu, 14 Oktober 2026, saat masyarakat setempat sedang menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ketua Umum Laskar Panglima Nanggroe, Sulaiman Manaf, mengatakan kericuhan bermula dari penurunan paksa Bendera Bulan Bintang yang dikibarkan warga dalam acara tersebut. Insiden itu disebut berujung pada korban luka dari kalangan masyarakat sipil.

“Kami sangat menyesali tindakan arogansi dan militeristik seperti itu. Apalagi terjadi saat suasana memperingati hari lahir Baginda Rasulullah SAW, yang seharusnya aparat hadir untuk mengayomi dan menyayangi rakyat,” kata Sulaiman Manaf, Rabu (15/10/2026).

Baca Juga :  Wagub Aceh Ajak Mahasiswa Baru Unimal Jadi Garda Depan Bela Negara

Sulaiman menilai peringatan Maulid merupakan kegiatan religius yang sakral dan telah menyatu dengan adat serta budaya masyarakat Aceh sejak masa kerajaan. Menurutnya, pengibaran Bendera Bulan Bintang dalam momentum tersebut merupakan bagian dari identitas diri dan ekspresi budaya rakyat Aceh.

Ia menegaskan, Bendera Bulan Bintang telah memiliki landasan hukum yang sah karena tercantum dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) dan telah dilembarkan dalam Qanun Aceh.

Baca Juga :  Kapolresta Banda Aceh Kukuhkan Tim Patroli Perintis Presisi 

“Kami mengingatkan kepada aparat TNI, jangan menunjukkan sikap premanisme terhadap rakyat Aceh,” ujarnya.

Sulaiman juga menyinggung usia perdamaian Aceh yang telah memasuki 21 tahun pasca MoU Helsinki. Ia menilai perdamaian masih sebatas slogan jika tidak dibuktikan dengan sikap dan perbuatan di lapangan.

“Di hampir semua kantor, batalyon, atau pos Koramil tertulis ‘Damai Itu Indah’. Jika damai itu indah dan bukan sekadar slogan, buktikan dengan perbuatan. Rakyat sudah sangat jera dan lelah dalam lingkaran konflik. Jangan ciptakan konflik itu terulang kembali,” tegasnya.

Baca Juga :  Komisi I DPRA Ingin Tata Dapil, Simeulue Kemungkinan Jadi Dapil Khusus

Terkait hal itu, Laskar Panglima Nanggroe meminta Presiden Republik Indonesia untuk segera menyelesaikan persoalan Aceh secara komprehensif dengan merealisasikan seluruh butir-butir Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki.

“Kalau tidak sanggup lagi urus, lepaskan saja Aceh. Karena sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa,” pungkas Sulaiman.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI terkait peristiwa di Muara Tiga tersebut.

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Daerah

TNI Gelar Gerakan Pangan Murah Bantu Masyarakat Aceh

Daerah

Wakili Pangdam IM, Kasdam IM sambut kedatangan Menteri Kehutanan dan Ketua Komisi IV DPR RI

Daerah

AKP Suci Ajak Pelajar Jadi Generasi Anti-Narkoba di Kegiatan MPLS

Daerah

Pak Ben Dorong Distan Usul Rehab Krueng Jreu-Seuneubok ke APBN 2026

Daerah

DPD Tani Merdeka Simeulue Resmi Dilantik, Siap Perjuangkan Kesejahteraan Petani

Daerah

PP Ikafensy Gelar Bukber dan Santuni Anak Yatim di Banda Aceh, Alumni FEB USK Diminta Bersatu Bangun Ekonomi

Daerah

RTLH TMMD Abdya Disertai Bantuan Usaha

Daerah

SPS Aceh Takziah ke Kediaman Almarhum Zulmansyah Sekedang