Jakarta – Antusiasme generasi muda terhadap literasi keislaman berbasis sains terlihat dari membludaknya pendaftar kegiatan “Yasalunaka Anil Ahillah: Hilal Observation Coaching” yang digelar Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama di Jakarta, Selasa (17/2/2026).
Program edukatif ini menjadi bagian dari penguatan literasi publik menjelang Ramadan, khususnya untuk memahami mekanisme penentuan awal bulan Hijriah secara komprehensif dan bertanggung jawab.
Nama kegiatan diambil dari penggalan ayat 189 Surat Al-Baqarah, “Yas’alūnaka ‘anil-ahillah” yang bermakna “Mereka bertanya kepadamu tentang hilal.” Frasa ini mencerminkan semangat edukasi dan dialog keilmuan dalam menjawab pertanyaan umat tentang fenomena hilal dari perspektif syariat maupun astronomi.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, mengungkapkan jumlah pendaftar kegiatan ini mencapai ribuan peserta.
“Jumlah peserta yang telah mendaftar untuk hadir secara luring mencapai 127 orang dan pendaftar daring sebanyak 1.864 peserta. Peserta didominasi generasi Z, terdiri atas mahasiswa, komunitas falak muda, serta influencer dan konten kreator yang aktif di media sosial,” terang Arsad di Jakarta, Senin (16/2/2026).
Ia menegaskan kegiatan dikemas dalam format coaching interaktif agar generasi muda memahami proses ilmiah penetapan awal bulan Hijriah.
“Kegiatan ini dirancang dalam format coaching interaktif. Kita ingin generasi muda memahami bahwa penetapan awal bulan Hijriah bukan sekadar pengumuman, tetapi melalui proses ilmiah yang melibatkan hisab, rukyat, serta musyawarah para ahli,” sambungnya.
Edukasi Hilal dan Sidang Isbat Ramadan
Kegiatan berlangsung di Ruang Perpustakaan lantai 2 Gedung Layanan Kementerian Agama, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta. Materi yang disampaikan mencakup landasan syar’i penentuan awal bulan Hijriah, integrasi metode hisab dan rukyat di Indonesia, pengenalan instrumen observasi hilal, hingga strategi komunikasi publik berbasis data dan sains.
Narasumber yang hadir antara lain M. Yusuf, peneliti astronomi dari Institut Teknologi Bandung yang berkiprah di Observatorium Bosscha. Ia memaparkan visibilitas hilal dari sisi astronomi, termasuk parameter ketinggian dan elongasi serta perkembangan riset pengamatan hilal di Indonesia.
Sementara itu, Kementerian Agama juga akan menggelar Sidang Isbat awal Ramadan pada 17 Februari 2026 di Hotel Borobudur Jakarta. Forum resmi ini menghadirkan perwakilan ormas Islam, pakar astronomi, instansi terkait, serta duta besar negara sahabat untuk mendengarkan paparan data hisab dan laporan hasil rukyat.
Rangkaian sidang diawali seminar posisi hilal secara astronomis yang terbuka untuk umum. Selepas Magrib, sidang digelar tertutup guna membahas data hisab dan hasil rukyat sebelum pemerintah menetapkan awal Ramadan. Hasil sidang Isbat akan diumumkan Menteri Agama melalui konferensi pers.
“Mekanisme ini menegaskan bahwa keputusan yang diambil pemerintah didasarkan pada pertimbangan syar’i dan ilmiah sekaligus, serta mengedepankan prinsip musyawarah dan tanggung jawab publik,” tandas Arsad.***
Editor: DahlanReporter: Syaiful AB










