Home / Daerah

Kamis, 9 Juli 2026 - 12:12 WIB

Cendikia Peutrang Nanggroe Gelar Diskusi “Ngopi”, Soroti Urgensi Bendera Alam Peudeung sebagai Identitas dan Marwah Aceh 

mm Muhammad Rissan

Ngobrol Inspirasi Cendikia Peutrang Nanggroe, Warkop Mini Solong, Lampineung, Banda Aceh,( 7/7/2026 ).Foto:Dok/Tgk. Adam

Ngobrol Inspirasi Cendikia Peutrang Nanggroe, Warkop Mini Solong, Lampineung, Banda Aceh,( 7/7/2026 ).Foto:Dok/Tgk. Adam

Banda Aceh – Di tengah derasnya arus globalisasi dan dinamika sosial yang terus berkembang, pemahaman terhadap identitas serta warisan sejarah daerah dinilai semakin penting untuk diperkuat. Berangkat dari semangat tersebut, Cendikia Peutrang Nanggroe menggelar diskusi bertajuk “Ngobrol Inspirasi” (Ngopi) dengan tema “Bendera Alam Peudeung sebagai Identitas Aceh” yang berlangsung di Warkop Mini Solong, Lampineung, Banda Aceh, Selasa (7/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana santai namun sarat gagasan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Ketua Cendikia Peutrang Nanggroe, M. Rafsanjani, S.Sos., M.E, dan budayawan Aceh Tarmizi A. Hamid (Cek Midi). Diskusi tersebut menjadi ruang pertukaran pemikiran yang membahas secara mendalam nilai historis, filosofis, serta relevansi Bendera Alam Peudeung dalam kehidupan masyarakat Aceh saat ini.

Baca Juga :  Terus Bergerak Bantu Pemulihan, Solusi Bangun Andalas Kerahkan Alat Berat untuk Pembersihan Area Terdampak Banjir

Dalam pemaparannya, M. Rafsanjani menegaskan bahwa Bendera Alam Peudeung tidak sekadar simbol visual, melainkan representasi perjalanan sejarah, jati diri, serta semangat perjuangan masyarakat Aceh yang telah diwariskan lintas generasi. Menurutnya, pemahaman yang utuh terhadap simbol-simbol daerah menjadi fondasi penting dalam memperkuat kesadaran kolektif masyarakat terhadap identitas dan nilai-nilai kebangsaan Aceh.

Baca Juga :  Kodam Iskandar Muda Tebar Kepedulian Lewat Jumat Berkah

Sementara itu, Cek Midi mengulas akar sejarah Bendera Alam Peudeung yang memiliki keterkaitan erat dengan peradaban dan kejayaan Kesultanan Aceh. Ia menekankan bahwa pelestarian identitas budaya tidak hanya dilakukan melalui seremonial, tetapi juga melalui proses edukasi dan pemahaman yang benar terhadap sejarah serta makna simbol-simbol yang menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Aceh.

Para peserta yang hadir tampak antusias mengikuti jalannya diskusi. Berbagai pandangan dan pertanyaan mengemuka, mencerminkan tingginya perhatian masyarakat terhadap isu identitas, sejarah, dan kebudayaan Aceh. Forum ini sekaligus menjadi wadah dialog konstruktif untuk memperkuat kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga warisan budaya sebagai aset peradaban yang bernilai strategis.

Baca Juga :  Diskominfo Bener Meriah Terbitkan 516 Sertifikat Elektronik, Dorong Efisiensi Administrasi ASN

Melalui kegiatan “Ngopi” ini, Cendikia Peutrang Nanggroe berharap dapat mendorong lahirnya ruang-ruang diskusi serupa yang mampu membangkitkan kepedulian generasi muda terhadap sejarah dan identitas Aceh. Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, pemahaman terhadap simbol-simbol kebesaran daerah seperti Bendera Alam Peudeung diyakini menjadi salah satu ikhtiar penting dalam menjaga marwah, memperkuat persatuan, serta merawat keberlanjutan nilai-nilai budaya Aceh untuk masa depan. (A)

Share :

Baca Juga

Daerah

PLN Kirim 50 MW Genset Darurat ke Aceh, Wagub: Pasokan Listrik Kini Lebih Aman

Daerah

500 Siswa Ikuti Persami dan Bela Negara KKRI Gelombang III di Rindam IM

Daerah

Bupati Aceh Utara Dorong Tenaga Honorer Jadi PPPK Paruh Waktu, Yusra Terharu

Daerah

Diduga Pipa PDAM Bocor Ganggu Warga dan Genangin Jalan

Daerah

Perkuat Ketahanan Pangan, Babinsa Kodam IM Aktif Dampingi Petani Aceh

Daerah

Progres 92 Persen, Jembatan Bailey Penghubung Dua Desa di Aceh Utara Segera Rampung

Daerah

Mayjen TNI Joko Hadi Susilo Buka Gerakan Pasar Murah di Banda Aceh

Daerah

Babinsa Koramil 01/Bandar Gencarkan Komsos, Perkuat Pembinaan Wilayah dan Kepedulian Lingkungan