Home / Opini

Minggu, 6 Juli 2025 - 08:00 WIB

Amalan Sunah di Bulan Muharram: Dari Puasa Asyura sampai Sedekah Mantap

mm Redaksi

Ilustrasi - Kenapa Muharram itu spesial? Yuk kenali sejarah & amalan penuh berkah di bulan mulia ini! dok. pexels.com/Naufal Fawwaz Assalam

Ilustrasi - Kenapa Muharram itu spesial? Yuk kenali sejarah & amalan penuh berkah di bulan mulia ini! dok. pexels.com/Naufal Fawwaz Assalam

ACEH NOW – Bulan Muharram menjadi salah satu bulan paling istimewa dalam kalender Islam. Tak hanya karena berada di awal tahun hijriyah, Muharram juga sarat dengan makna sejarah dan penuh keberkahan bagi umat muslim. Di bulan ini, Allah melipatgandakan pahala setiap amal saleh dan melarang perbuatan aniaya terhadap diri sendiri. Itulah mengapa Muharram disebut sebagai salah satu bulan yang dimuliakan.

Sebagai pembuka tahun baru Islam, Muharram menjadi momentum tepat untuk berhijrah dari kebiasaan buruk menuju perilaku yang lebih baik. Rasulullah SAW bahkan menyebut bulan ini sebagai “bulan Allah” karena keutamaannya yang luar biasa. Lalu, amalan apa saja yang bisa kita lakukan di bulan mulia ini? Berikut rangkumannya, dari puasa Asyura sampai sedekah yang mantap.

Puasa Sunnah Asyura dan Tasu’a di Bulan Muharram

Salah satu amalan paling utama yang dianjurkan di bulan Muharram adalah puasa sunnah. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim).

Puasa sunnah di bulan ini menjadi salah satu cara terbaik untuk meraih ampunan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kita bisa memilih hari-hari di sepanjang bulan Muharram untuk berpuasa, meskipun tidak wajib. Namun, ada dua hari yang sangat dianjurkan, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram yang dikenal sebagai puasa Tasu’a dan Asyura.

Baca Juga :  Sepaket Nasi dan Ikan Goreng, Kebaikan Meugang di Hari Raya Idul Adha

Keistimewaan Puasa Asyura dan Tasu’a

Puasa di hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram, memiliki keutamaan besar karena bisa menghapus dosa-dosa kecil selama satu tahun sebelumnya. Rasulullah SAW bersabda: “Puasa pada hari Asyura, saya berharap kepada Allah dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).

Agar berbeda dari kebiasaan kaum Yahudi yang juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram, Nabi menganjurkan untuk menambahkan puasa sehari sebelum atau sesudahnya. Karenanya, lahirlah anjuran untuk berpuasa juga pada tanggal 9 Muharram yang disebut sebagai puasa Tasu’a. Nabi SAW bersabda: “Berpuasalah kalian pada hari Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi. Berpuasalah sebelumnya atau setelahnya satu hari.” (HR. Ahmad).

Dengan melaksanakan puasa Tasu’a dan Asyura secara berurutan, umat Islam tidak hanya mendapatkan keutamaan pengampunan dosa, tetapi juga menunjukkan identitasnya sebagai muslim sejati yang mengikuti sunnah Nabi.

Baca Juga :  Pulau Itu Bukan Sekadar Administrasi: Luka Aceh Tak Pernah Pudar

Mantapnya Sedekah di Bulan Muharram

Selain memperbanyak puasa, sedekah menjadi amalan lain yang tak kalah penting di bulan Muharram. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram, di mana pahala setiap amal saleh dilipatgandakan.

Sedekah tidak hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga membersihkan hati dan harta kita dari sifat kikir. Rasulullah SAW juga sangat menganjurkan umatnya untuk menyantuni anak yatim dan membantu mereka yang membutuhkan, apalagi di bulan-bulan yang dimuliakan.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 261:
“Perumpamaan orang yang bersedekah di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, setiap tangkai berisi seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”

Jadi, tidak ada salahnya untuk mulai melatih diri berbagi, baik dengan menyisihkan sebagian rezeki, memberi makan, hingga membantu tetangga yang kesulitan. Sekecil apa pun sedekah kita, Allah janjikan balasan yang berlipat ganda.

Baca Juga :  DPD PBN Aceh: Dari Rakyat untuk Bhayangkara, Semoga Semakin Dicintai

Muharram sebagai Momentum Hijrah

Bulan Muharram bukan hanya soal ibadah, tetapi juga saat yang tepat untuk melakukan refleksi diri dan berhijrah ke arah yang lebih baik. Umat Islam diajak untuk mengevaluasi perjalanan hidup, meninggalkan kebiasaan buruk, dan menggantinya dengan amalan yang diridhai Allah SWT.

Hijrah ini tidak selalu berarti pindah tempat seperti Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Namun lebih kepada perubahan mental, spiritual, dan sosial menjadi pribadi yang lebih taat, bermanfaat, dan berakhlak mulia.

Tak perlu menunggu kaya untuk berbagi, dan tak perlu menunggu waktu luang untuk beribadah. Mulai dari sekarang, jadikan Muharram sebagai titik balik untuk memperbaiki diri.

Karena sejatinya, Muharram adalah bulan Allah yang penuh rahmat. Siapa pun yang memanfaatkannya dengan baik akan mendapatkan keberkahan dunia dan akhirat. Yuk, kita rayakan Tahun Baru Islam dengan cara yang benar, penuh makna, dan tentunya mantap dengan amalan-amalan sunnah yang dianjurkan!***

Editor: RedaksiReporter: Syaiful AB

Share :

Baca Juga

Opini

DPD PBN Aceh: Dari Rakyat untuk Bhayangkara, Semoga Semakin Dicintai

Opini

Sepaket Nasi dan Ikan Goreng, Kebaikan Meugang di Hari Raya Idul Adha

Opini

Pulau Itu Bukan Sekadar Administrasi: Luka Aceh Tak Pernah Pudar

Opini

Aceh dalam Bayang-Bayang Medan

Opini

Empat Pulau Kembali, Mualem Disambut Bak Pahlawan: Saatnya Aceh Menyulapnya Jadi Permata