Home / Daerah

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:48 WIB

Alam Peudeung Tidak Boleh Mati dalam Ingatan Bangsa Aceh

mm Muhammad Rissan

Simbol sejarah Kesultanan Aceh Darussalam, Foto:Dok/ Tgk. Adam

Simbol sejarah Kesultanan Aceh Darussalam, Foto:Dok/ Tgk. Adam

Banda Aceh – Di tengah derasnya arus modernisasi, ada satu hal yang tidak boleh hilang dari ingatan kolektif masyarakat Aceh terhadap sejarah peradaban bangsa Aceh terutama sekali terhadap jati diri sebuah bangsa kala itu.

Sejarah Alam Peudeung bukan sekadar simbol yang tergambar pada selembar bendera. Ia adalah representasi perjalanan panjang sebuah bangsa yang pernah berdiri tegak sebagai salah satu kekuatan politik, ekonomi, dan peradaban Islam terbesar di Asia Tenggara.

Menghapus ingatan terhadap Alam Peudeung sama artinya dengan memutus mata rantai sejarah yang menghubungkan generasi hari ini dengan para pendahulunya. Namun, mencintai Alam Peudeung tidak berarti menempatkannya berhadapan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga :  Afdhal Dorong Generasi Muda Lestarikan Seni Aceh melalui SMS

Dalam perspektif hukum positif Indonesia, setiap simbol daerah harus berada dalam koridor konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Negara hukum menghendaki penghormatan terhadap identitas lokal sekaligus menjaga keutuhan nasional. Karena itu, perdebatan mengenai Alam Peudeung semestinya tidak diposisikan sebagai pertentangan antara Aceh dan Indonesia, melainkan sebagai upaya menemukan titik temu antara penghormatan terhadap sejarah daerah dan kepastian hukum nasional.

Secara historisnya, Alam Peudeung lahir jauh sebelum republik ini berdiri. Ia merupakan simbol Kesultanan Aceh Darussalam yang pernah memainkan peran penting dalam perdagangan internasional, pengembangan ilmu pengetahuan Islam, serta perlawanan terhadap kolonialisme.

Baca Juga :  Prajurit Kodam IM Dikerahkan Bantu Warga Korban Banjir Aceh Utara

Dalam konteks inilah Alam Peudeung memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar atribut politik, karena simbol adalah warisan peradaban. Oleh Karena itu, pelestariannya harus dipahami sebagai upaya menjaga memori sejarah, bukan membangkitkan romantisme konflik masa lalu.

Masyarakat yang besar adalah masyarakat yang menghormati sejarahnya. Jepang menjaga simbol-simbol tradisionalnya. Turki merawat warisan Utsmani. Inggris melestarikan simbol-simbol kerajaannya.

Maka Aceh pun berhak menjaga dan merawat simbol-simbol sejarahnya sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia. Tidak ada yang salah dengan mencintai warisan leluhur selama kecintaan itu diarahkan untuk pendidikan, kebudayaan, dan penguatan identitas yang konstruktif.

Yang dibutuhkan hari ini bukanlah saling mencurigai, melainkan kedewasaan dalam memaknai sejarah. Alam Peudeung harus dilihat sebagai aset kebudayaan Aceh yang memiliki nilai historis, edukatif, dan identitas.

Baca Juga :  Tokoh Dermawan Aceh Nyak Sandang Tutup Usia, Penyumbang Pesawat Pertama RI Berpulang

Generasi muda Aceh perlu mengenalnya, mempelajarinya, dan memahami filosofi yang terkandung di dalamnya diantaranya, keberanian, kehormatan, persatuan, serta semangat menjaga marwah. Sebab bangsa yang kehilangan sejarahnya akan kehilangan arah masa depannya.

Merawat Alam Peudeung berarti merawat ingatan. Dan merawat ingatan adalah bagian dari merawat peradaban Aceh itu sendiri. Bukan untuk memisahkan diri dari Indonesia, tetapi untuk memastikan bahwa di dalam Indonesia yang majemuk ini, Aceh tetap berdiri dengan identitas, kehormatan, dan sejarahnya yang terjaga.

Share :

Baca Juga

Daerah

Kapolres Aceh Tengah Baru : Ajak Warga Jaga Kamtibmas Lewat Safari Subuh di Bebesen

Daerah

Perkuat Soliditas, Salimah Aceh Komit Hadirkan Program Nyata bagi Masyarakat

Daerah

Bener Meriah Dorong Investasi SPPG untuk Percepat Akses Gizi
Truk Terguling

Daerah

Truk Terguling di Muara Satu, Hujan Deras Bikin Jalan Licin

Daerah

Terdampak Hama Wereng, Petani Cot Girek Aceh Utara Menghadapi Kerugian Besar

Daerah

2 Pekan Terakhir, Disdukcapil Terima 20 Laporan Penipuan Berkedok IKD

Daerah

Pastikan Kualitas Pemenuhan Gizi, Dandim 0115/Simeulue, Tinjau Dapur Sppg Bako Parangai 

Daerah

Dandim 0119/BM Dampingi Pangdam IM Hadiri Launching Koperasi Merah Putih Secara Zoom Bersama Presiden Republik Indonesia