Home / Daerah

Senin, 15 Juni 2026 - 12:11 WIB

Tiga Motif Khas Pidie Jaya Raih HAKI, Salah Satunya Terinspirasi Pakaian Perjuangan Tgk Chik Pante Geulima

mm Muhammad Rissan

Bupati Pidie Jaya Tgk. H. Syibral Malasyi, S. Sos. Menyerahkan sertifikat HAKI atas tiga motif khas Pidie Jaya kepada Ketua Dekranas Kab. Pidie Jaya Hj. Asmawati yang turut di dampingi Sang pencipta Motif Wardatuttiflah. Meureudu, 14/6/2026. Foto:Dok/Muhammad Rissan

Bupati Pidie Jaya Tgk. H. Syibral Malasyi, S. Sos. Menyerahkan sertifikat HAKI atas tiga motif khas Pidie Jaya kepada Ketua Dekranas Kab. Pidie Jaya Hj. Asmawati yang turut di dampingi Sang pencipta Motif Wardatuttiflah. Meureudu, 14/6/2026. Foto:Dok/Muhammad Rissan

Pidie Jaya – Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, Kabupaten Pidie Jaya kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga warisan budaya dan identitas daerah.

Wardatuttiflah sang Desainer Wastra muda Pidie Jaya sekaligus  pencipta motif batik telah mewujudkan Komitmen tersebut  melalui pengakuan negara atas tiga motif khas Pidie Jaya, yakni Motif Oen Paku, Motif Pucoek Kala, dan Motif Ukiran Beragam, yang resmi memperoleh Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

Pencapaian ini tentunya berkat dukungan dari pak  Marzuwan selaku Kabid Budaya Disdik Pidie Jaya dan Hj. ir cut Rita marlina sekali sosok inspirasi dan ini bukan sekadar pengakuan atas sebuah karya seni, melainkan tonggak penting dalam upaya pelestarian budaya yang menghubungkan sejarah, nilai-nilai lokal, dan kreativitas generasi masa kini dalam satu narasi yang utuh.

Penyerahan sertifikat HAKI dilaksanakan dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Pidie Jaya yang oleh Bupati Pidie Jaya H. Syibral Malasyi kepada Hj. Asmawati selaku Ketua Dekranasda Kabupaten Pidie Jaya sekaligus pemegang hak cipta ketiga motif tersebut. Minggu 14/6/2026.

Baca Juga :  Enam Atlet Aceh Timur Lolos Popnas XVII, Bupati Iskandar Beri Pesan Khusus

Wardatuttiflah dalam kesempatan tersebut kepada media ini mengatakan, keistimewaan ketiga motif ini terpancar dari  kuatnya akar budaya dan sejarah yang menjadi sumber inspirasinya.

Salah satu motif bahkan lahir dari hasil kajian terhadap pakaian perjuangan Tgk Chik Pante Geulima, ulama kharismatik dan pejuang Aceh asal Pidie yang namanya terus diperjuangkan untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional.

Melalui pendekatan riset budaya yang mendalam,  elemen-elemen yang terdapat pada pakaian perjuangan tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk motif wastra modern tanpa menghilangkan makna filosofis yang terkandung di dalamnya.

Motif yang dihasilkan menjadi simbol penghormatan terhadap semangat perjuangan, keberanian, kepemimpinan, dan kecintaan terhadap tanah air yang diwariskan oleh para pendahulu. Ucap Wardah sapaan akrabnya.

Tidak berhenti pada aspek visual semata, ketiga motif tersebut juga merupakan hasil kolaborasi antara desainer, budayawan, dan pemangku kepentingan daerah dalam menggali kembali kekayaan budaya Pidie Jaya.

Baca Juga :  Ruslan M. Daud: Komisi V DPR RI Jadi Kunci Pembangunan Infrastruktur dan Konektivitas Nasional

” Setiap garis, bentuk, dan ornamen yang dituangkan memiliki makna yang merefleksikan karakter masyarakat, kekayaan alam, serta perjalanan sejarah daerah ” imbuh Wardah

Sebagai mana dalam Motif Oen Paku  merepresentasikan ketangguhan dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Motif Pucoek Kala menggambarkan harapan, kemajuan, dan semangat regenerasi. Sementara Motif Ukiran Beragam menjadi simbol harmoni, keberagaman, dan kekayaan seni budaya yang hidup di tengah masyarakat Pidie Jaya.

Menurut Wardatuttiflah, pencatatan HAKI merupakan langkah strategis untuk memastikan karya budaya daerah mendapatkan perlindungan hukum sekaligus pengakuan yang layak.

“Warisan budaya tidak cukup hanya dilestarikan, tetapi juga harus dilindungi. HAKI menjadi bentuk penghargaan terhadap kreativitas sekaligus upaya menjaga identitas budaya daerah agar tetap hidup, berkembang, dan dikenal oleh generasi mendatang,” ujarnya.

Perolehan HAKI ini juga menjadi bukti bahwa budaya dapat menjadi instrumen pembangunan daerah. Selain memperkuat identitas dan kebanggaan masyarakat, wastra daerah memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi bagian dari industri kreatif yang bernilai ekonomi tinggi.

Baca Juga :  PMI Nasional Salurkan Alat Berat dan Bantuan Pangan untuk Korban Bencana di Aceh

Lebih dari itu, pengakuan terhadap ketiga motif ini menunjukkan bahwa Pidie Jaya tidak hanya merawat masa lalunya, tetapi juga mengolahnya menjadi inspirasi untuk masa depan. Ketika sejarah perjuangan, kearifan lokal, dan kreativitas berpadu dalam sebuah karya, lahirlah identitas budaya yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna.

Dengan terbitnya Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual ( Haki ) atas ke tiga motif batik tersebut , Pidie Jaya kembali menegaskan posisinya sebagai daerah yang terus berupaya menjaga denyut warisan budaya, mengangkat nilai-nilai kepahlawanan, serta memperkenalkan kekayaan wastra daerah kepada Indonesia dan dunia.

Karena sebuah motif bukan sekadar corak pada kain, melainkan jejak sejarah, simbol peradaban, dan cerita tentang jati diri sebuah daerah yang diwariskan dari generasi ke generasi. (R)

Share :

Baca Juga

Daerah

PMI Nasional Salurkan Alat Berat dan Bantuan Pangan untuk Korban Bencana di Aceh

Daerah

Terus Bergerak Bantu Pemulihan, Solusi Bangun Andalas Kerahkan Alat Berat untuk Pembersihan Area Terdampak Banjir

Daerah

Satgas Anti Premanisme Polresta Banda Aceh Amankan Juru Parkir Liar

Daerah

Dandim 0119/BM Hadiri Peresmian Nasional 1.061 Koperasi Merah Putih Secara Daring

Daerah

Dugaan Kartel Tengkulak Menguat

Daerah

TP PKK Aceh Tinjau Pengungsian Korban Banjir Bandang di Meurah Dua, Fokus pada Kesehatan dan Trauma Healing

Daerah

Peringatan May Day di Banda Aceh Berlangsung Tertib, Polda Aceh Bagikan 2,5 Ton Beras

Daerah

Pria Misterius Diamankan Saat Patroli Satpol PP WH di Underpass Beurawe Banda Aceh