Banda Aceh – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Banda Aceh tidak hanya menitikberatkan pada ketersediaan makanan, tetapi juga memastikan asupan gizi benar-benar dikonsumsi oleh anak-anak. Pendekatan berbasis menu lokal kini menjadi strategi untuk meningkatkan serapan nutrisi sekaligus menjaga keseimbangan gizi harian penerima manfaat.
Di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lamlagang Banda Raya, penyusunan menu MBG dilakukan dengan mempertimbangkan kandungan gizi dan kebiasaan konsumsi anak. Integrasi kuliner khas Aceh dinilai mampu meningkatkan nafsu makan, sehingga zat gizi yang disediakan dapat terserap optimal.
Ahli Gizi SPPG Lamlagang Banda Raya, Achsanu Nadia, menjelaskan bahwa tantangan utama dalam program MBG bukan hanya menyusun menu bergizi, tetapi memastikan makanan tersebut dikonsumsi hingga habis.
“Kalau makanan tidak dihabiskan, maka asupan gizi yang diharapkan tidak tercapai. Karena itu, menu harus disesuaikan dengan selera anak,” ujarnya.
Salah satu menu yang digunakan adalah Nasi Goreng Nektu dan Telur Darsun. Menu ini dinilai tidak hanya familiar, tetapi juga memiliki komposisi gizi yang seimbang untuk mendukung kebutuhan energi anak.
Dalam satu porsi, menu tersebut mengandung energi sebesar 562,6 kilokalori, protein 19,4 gram, lemak 21,4 gram, serta karbohidrat 74,1 gram. Kandungan ini dinilai cukup untuk memenuhi sebagian kebutuhan gizi harian anak dalam satu kali makan.
Secara umum, standar porsi dalam program MBG dirancang untuk memenuhi sekitar 30 hingga 40 persen kebutuhan energi harian. Komposisi makanan disusun lengkap, meliputi sumber karbohidrat sebagai energi utama, protein hewani dan nabati untuk pertumbuhan, serta sayuran dan buah sebagai sumber vitamin, mineral, dan serat.
Pendekatan ini bertujuan menjaga keseimbangan asupan gizi, sehingga anak tidak mengalami kekurangan maupun kelebihan nutrisi. Dalam kondisi tertentu, tambahan susu juga diberikan untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan protein.
Selain Nasi Goreng Nektu, SPPG Lamlagang juga menyajikan menu lain seperti Udang Masak Aceh dan Ikan Tumis Aceh yang diolah dengan rempah khas. Variasi ini tetap memperhatikan kandungan gizi, sekaligus menjaga agar anak tidak bosan dengan menu yang disajikan.
Achsanu menegaskan, keberagaman menu penting untuk menjaga konsistensi asupan nutrisi harian. Menu yang bervariasi dan sesuai selera akan meningkatkan kemungkinan makanan dikonsumsi secara optimal.
“Dengan menu yang familiar, anak-anak cenderung lebih lahap. Ini penting agar zat gizi yang diberikan benar-benar masuk ke tubuh,” katanya.
Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Gizi Nasional (BGN), Khairul Hidayati, menilai pendekatan ini sebagai langkah tepat dalam meningkatkan efektivitas program dari sisi gizi.
“Menu lokal lebih mudah diterima anak-anak. Dengan begitu, konsumsi meningkat dan tujuan pemenuhan gizi bisa tercapai,” ujarnya.
Ia menambahkan, program MBG dirancang tidak hanya untuk menyediakan makanan, tetapi memastikan kualitas gizi yang dikonsumsi sesuai kebutuhan anak.
Dengan strategi tersebut, MBG diharapkan mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan status gizi anak. Fokus pada keseimbangan nutrisi, variasi menu, dan tingkat konsumsi menjadi kunci agar program ini berjalan efektif dan berkelanjutan.
Editor: Dahlan










