Banda Aceh – Kebocoran tabung gas LPG di Kota Banda Aceh bukan lagi kejadian langka. Dalam catatan petugas pemadam kebakaran, insiden ini bahkan terjadi hampir setiap minggu, dengan kondisi yang bervariasi mulai dari kebocoran yang belum sempat memicu api, hingga kasus yang sudah berujung kebakaran.
Inspektur Muda Kebakaran Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Banda Aceh, Yudi, SH, menegaskan bahwa kebocoran LPG bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga soal kesadaran dan ketelitian masyarakat dalam penggunaan sehari-hari. Menurutnya, banyak kejadian kebakaran berawal dari kelalaian kecil yang dianggap sepele.
“Kalau kita paham cara kerja kebakaran, sebenarnya bisa dicegah. Kebakaran itu butuh tiga unsur, yaitu oksigen, panas, dan bahan bakar. Dalam kasus LPG, kebocoran berarti bahan bakar sudah tersedia. Tinggal menunggu panas saja untuk memicu kebakaran,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Ia menjelaskan, langkah paling awal dalam mengantisipasi kebocoran adalah mengenali tanda-tandanya. Gas LPG memang tidak berbau secara alami, namun telah diberi zat khusus agar mudah terdeteksi.
“Kalau tercium bau seperti durian atau pesing, itu bukan bau biasa. Itu tanda kebocoran. Artinya gas sudah menyebar di ruangan. Kalau dibiarkan, tinggal menunggu percikan kecil saja untuk terjadi ledakan,” jelasnya.
Karena itu, Yudi mengingatkan masyarakat agar tidak menyalakan api, listrik, atau bahkan memicu percikan sekecil apa pun saat mencium bau gas. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuka ventilasi agar gas keluar dan mengurangi konsentrasi di dalam ruangan.
“Segera buka pintu dan jendela. Jangan hidupkan kompor, jangan nyalakan saklar listrik. Fokus dulu keluarkan gas dari ruangan,” tegasnya.
Selain itu, pengecekan rutin pada komponen LPG juga menjadi kunci utama pencegahan. Yudi menyoroti pentingnya memastikan kondisi regulator, selang, dan karet pengaman dalam keadaan baik setiap kali mengganti tabung.
“Sering kali kebocoran terjadi karena karetnya sudah tidak rapat atau regulatornya rusak. Ini hal sederhana, tapi sering diabaikan. Padahal dampaknya bisa besar,” katanya.
Ia menyarankan agar masyarakat tidak menggunakan regulator murah dengan kualitas rendah, karena berisiko mengalami kerusakan pada katup pengunci. Regulator yang tidak kembali ke posisi semula dapat menyebabkan gas keluar secara perlahan tanpa disadari.
Lebih jauh, Yudi juga mengimbau agar posisi tabung LPG tidak ditempatkan di dalam rumah atau dapur tertutup. Menurutnya, penempatan tabung di area terbuka dapat meminimalisir risiko akumulasi gas jika terjadi kebocoran.
“Kalau bisa, letakkan tabung di luar rumah atau di belakang dapur. Jadi kalau bocor, gas langsung menyebar ke udara terbuka, tidak terperangkap di dalam ruangan,” ujarnya.
Dalam kondisi darurat, masyarakat juga perlu memahami langkah penanganan awal. Jika kebocoran terjadi saat kompor masih menyala, regulator masih bisa dilepas dengan hati-hati. Namun jika api sudah membesar, langkah paling aman adalah menutup sumber api dengan kain tebal yang dibasahi.
“Gunakan kain seperti handuk atau selimut yang tebal, basahi, lalu tutup api sampai rapat. Tujuannya agar oksigen tidak masuk,” jelasnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa penanganan manual hanya bersifat sementara. Idealnya, setiap rumah memiliki alat pemadam api ringan (APAR) sebagai bentuk kesiapsiagaan.
“Kalau ada APAR, penanganan jauh lebih cepat dan aman. Ini penting, apalagi untuk rumah tangga yang menggunakan LPG setiap hari,” katanya.
Selain ancaman api, Yudi juga mengingatkan bahaya lain yang kerap diabaikan, yakni paparan gas itu sendiri. Gas yang bocor dapat memenuhi ruangan dan menggantikan oksigen, sehingga berpotensi menyebabkan pingsan.
“Kalau terhirup terus-menerus, orang bisa kehilangan kesadaran karena kekurangan oksigen. Jadi bukan hanya kebakaran, tapi juga risiko sesak napas,” ungkapnya.
Dengan meningkatnya frekuensi kebocoran LPG di Banda Aceh, Yudi berharap masyarakat tidak hanya reaktif saat kejadian terjadi, tetapi juga proaktif dalam melakukan pencegahan. Ia menegaskan, keselamatan dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
“Jangan tunggu kejadian baru waspada. Antisipasi itu jauh lebih penting. Periksa rutin, kenali tanda kebocoran, dan pastikan penggunaan LPG aman setiap hari,” pungkasnya.
Editor: Dahlan











