SIMEULUE – Kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang tidak diimbangi dengan kestabilan biaya produksi dan tata niaga di tingkat petani kembali menuai keluhan dari masyarakat, khususnya para petani sawit di Kabupaten Simeulue.
Ketua APKASINDO Perjuangan Hasdian Yasin SP,. menyampaikan bahwa berbagai persoalan yang dihadapi petani saat ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pihak terkait. Menurutnya, meskipun harga sawit mengalami fluktuasi, masih banyak petani yang belum merasakan dampak positif secara maksimal akibat berbagai kendala di lapangan.
“Kami menerima banyak keluhan dari petani terkait harga sawit yang tidak stabil, biaya transportasi yang tinggi, serta berbagai persoalan tata niaga yang dinilai masih merugikan petani. Kondisi ini harus segera mendapat solusi konkret dari pemerintah agar kesejahteraan petani benar-benar meningkat,” ujarnya, Selasa (9/6/2026).
Hasdian menjelaskan bahwa kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan yang menjadi sumber penghasilan utama bagi sebagian besar masyaraka Simeulue, Oleh karena itu, kebijakan yang menyangkut sektor perkebunan sawit harus berpihak kepada petani sebagai ujung tombak perekonomian daerah.
“Kami meminta pemerintah daerah untuk lebih aktif melakukan pengawasan terhadap mekanisme penetapan harga sawit di tingkat pabrik maupun pengepul agar tidak terjadi kesenjangan yang merugikan petani,” pungkasnya
Untuk diketahui Berdasarkan data nasional APKASINDO, harga TBS sawit di sejumlah provinsi pada akhir Mei 2026 telah berada di kisaran Rp3.400 hingga Rp4.000 per kilogram.
Sementara di lapangan, petani Simeulue disebut masih menghadapi harga yang belum stabil dan cenderung lebih rendah dibanding daerah lain. Sejumlah laporan nasional juga menunjukkan harga sawit sempat mengalami tekanan akibat kebijakan ekspor dan penurunan harga crude palm oil (CPO). Bahkan, di beberapa daerah harga TBS petani turun hingga 27 persen dalam beberapa pekan terakhir.
Editor: DahlanReporter: Agus Muliadi










